Pesisir Selatan, pasbana - Ada perjalanan yang tujuannya bukan sekadar sampai. Perjalanan menuju Air Terjun Sarasah Batuang di Puluik-Puluik, Kecamatan IV Nagari Bayang Utara, Kabupaten Pesisir Selatan, adalah salah satunya.
Dari Padang, perjalanan darat membutuhkan sekitar tiga jam menuju kawasan Puluik-Puluik. Kendaraan berhenti di permukiman warga atau pos masuk, tetapi petualangan justru baru dimulai.
Jalan kaki, jalur tanah, pepohonan rapat, dan kontur alam yang menantang menjadi pintu masuk menuju salah satu keindahan tersembunyi di pedalaman Sumatera Barat.
Sarasah Batuang masih memelihara kemewahan yang kini semakin langka: keheningan alam.
Sarasah Batuang masih memelihara kemewahan yang kini semakin langka: keheningan alam.
Di tengah rimbunnya hutan tropis, air terjun menjatuhkan aliran deras dari ketinggian sekitar puluhan meter. Gemuruh airnya bersahutan dengan suara serangga dan burung, sementara udara sejuk menyelimuti kawasan hijau di sekelilingnya.
Namun, perjalanan ke sana bukan wisata yang bisa dijalani dengan langkah tergesa-gesa.
Medan trekking cukup terjal dan dapat menjadi licin, terutama setelah hujan. Karena itu, wisatawan disarankan menggunakan alas kaki dengan cengkeraman kuat serta mempersiapkan kondisi fisik sebelum memulai perjalanan. Air minum dan makanan ringan juga perlu dibawa karena belum tersedia warung di kawasan air terjun.
Bagi pendatang yang belum mengenal jalur, menggunakan jasa pemandu lokal menjadi pilihan yang bijak. Pemuda setempat dan POKDARWIS Gujangtino Puluik-Puluik dapat membantu mendampingi perjalanan. Selain meningkatkan keselamatan, kehadiran pemandu membuka ruang interaksi dengan warga sekaligus mendukung pengelolaan wisata berbasis masyarakat.
Di sinilah nilai Sarasah Batuang melampaui panorama. Wisata alam bukan hanya soal mengambil foto, tetapi juga memahami bahwa keindahan yang masih terjaga membutuhkan tanggung jawab pengunjung.
Saat cuaca buruk, perjalanan sebaiknya ditunda. Risiko jalur licin dan perubahan debit aliran sungai tidak boleh diremehkan. Dan seperti aturan tak tertulis setiap pendaki, apa pun yang dibawa masuk harus dibawa kembali keluar—termasuk sampah.
Bagi pencinta petualangan, Sarasah Batuang menawarkan sesuatu yang semakin sulit ditemukan: perjalanan yang menguji langkah, lalu membayarnya dengan pemandangan alam yang masih terasa liar dan jujur.
Jadi, jika ingin menikmati Sarasah Batuang, siapkan fisik, gunakan pemandu lokal, pantau cuaca, dan jadilah wisatawan yang meninggalkan jejak di ingatan—bukan di alam. Makin tahu Indonesia. (*)





