Pasbana - Indonesia punya alasan kuat untuk tersenyum. Sekitar 67 persen cadangan atau sumber daya nikel dunia berada di negeri ini. Kita bukan sekadar pemain besar—kita nyaris memegang kartu truf dalam industri nikel global.
Ironisnya, kekayaan itu belum otomatis membuat sektor pertambangan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang makin kencang. Kontribusi atau pertumbuhan PDB sektor pertambangan justru menghadapi tekanan. Di sinilah pertanyaan besarnya: apakah Indonesia sedang terlalu sibuk menggali, tetapi belum cukup pintar menghitung nilai yang digali?
Nikel memang bukan lagi sekadar komoditas tambang. Ia menjadi bahan baku penting industri baja tahan karat dan ekosistem kendaraan listrik. Pemerintah pun mendorong hilirisasi agar Indonesia tidak berhenti pada posisi sebagai pemasok bijih mentah.
Namun hilirisasi tanpa mekanisme harga yang transparan juga menyisakan pekerjaan rumah. Harga yang terbentuk harus mencerminkan kondisi pasar secara wajar, bukan sekadar hasil tarik-menarik kepentingan pembeli dan penjual.
Karena itu, persetujuan pembentukan Bursa Mineral menjadi langkah yang menarik. Bursa diharapkan menciptakan price discovery yang lebih sehat—harga terbentuk berdasarkan transaksi dan informasi pasar yang lebih transparan.
Tetapi jangan buru-buru berpesta. Bursa bukan tongkat sulap. Ia baru akan berarti jika didukung data yang terbuka, pelaku pasar yang kredibel, pengawasan yang kuat, dan transaksi yang benar-benar aktif.
Sebab persoalan Indonesia bukan sekadar punya nikel atau tidak. Pertanyaan yang lebih penting: berapa nilai ekonomi yang benar-benar tinggal di Indonesia dari setiap ton nikel yang keluar dari tanah?
Kita boleh menjadi gudang nikel dunia. Tetapi jangan sampai pertumbuhan ekonomi hanya kebagian debunya.
Kalau Bursa Mineral mampu membuat harga lebih transparan, efisien, dan mencerminkan nilai sebenarnya, Indonesia punya peluang mengubah keunggulan geologi menjadi keunggulan ekonomi.
Kalau Bursa Mineral mampu membuat harga lebih transparan, efisien, dan mencerminkan nilai sebenarnya, Indonesia punya peluang mengubah keunggulan geologi menjadi keunggulan ekonomi.
Kalau tidak, kita mungkin tetap kaya nikel—tetapi miskin nilai tambah. (*)




