Pasbana- Industri tekstil Indonesia memasuki babak baru. Pemerintah tidak hanya mendorong pabrik kembali berproduksi, tetapi juga ingin membenahi mesin, pembiayaan, hingga rantai pasok dari hulu ke hilir. Presiden Prabowo Subianto mengarahkan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) kembali membuka pembiayaan bagi sektor tekstil, terutama untuk peremajaan mesin yang sudah tua.
Arahan tersebut menjadi bagian dari strategi mengembalikan daya saing industri tekstil dan produk tekstil (TPT). CEO Danantara Rosan Roeslani mengatakan sektor ini sebelumnya dipandang perbankan sebagai sunset industry.
Kini pemerintah ingin membuka kembali akses pembiayaan agar pelaku usaha dapat melakukan investasi mesin dan menambah kapasitas produksi.
Dukungan tidak berhenti pada kredit.
Dukungan tidak berhenti pada kredit.
Pemerintah juga mempertimbangkan pemberian kembali fasilitas tax holiday bagi industri tekstil, sementara sejumlah ketentuan perpajakan, termasuk aspek PPN, turut dikaji. Danantara juga menyiapkan gagasan kawasan khusus yang mengintegrasikan industri TPT dari hulu hingga hilir dengan dukungan teknologi.
Di sisi investasi, Danantara membuka peluang mengembangkan perusahaan tekstil yang sudah eksis. Perusahaan yang memiliki potensi dari sisi mesin, teknologi dan penyerapan tenaga kerja dapat dipertimbangkan untuk dikembangkan atau menjadi mitra. Namun, Rosan menegaskan aspek return investasi tetap menjadi pertimbangan Danantara.
Bagi industri, paket kebijakan ini menunjukkan persoalannya bukan sekadar kekurangan modal. Mesin yang menua, efisiensi produksi, teknologi dan integrasi rantai pasok menentukan kemampuan produk Indonesia bersaing di pasar global.
Jika pembiayaan, insentif dan investasi benar-benar berjalan beriringan, tantangannya kemudian bergeser: bukan lagi bagaimana menyelamatkan industri tekstil, melainkan bagaimana membuatnya kembali produktif, kompetitif, dan mampu menciptakan lapangan kerja secara berkelanjutan.(*)




