Notification

×

Iklan

Iklan

Saat Sampah Bisa Membayar Pajak: Kisah Bank Sampah Pondok Permai di Padang

Kamis, 24 September 2026 | 11:03 WIB
 


Padang, pasbana - Di banyak rumah, sampah biasanya berakhir di tempat pembuangan. Namun di Kelurahan Limau Manis Selatan, Kecamatan Pauh, Kota Padang, sampah justru bisa berubah menjadi sesuatu yang lebih berarti: tabungan, produk rumah tangga, bahkan membantu membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).

Itulah yang dikembangkan Bank Sampah Pondok Permai. Warga tidak hanya diajak memilah botol plastik, kardus atau material bernilai jual. Sampah organik dari sisa makanan pun ikut dikelola agar tidak berhenti sebagai beban lingkungan.

Skemanya sederhana. Sampah yang disetorkan warga ditimbang dan dicatat sebagai tabungan. Saldo tersebut kemudian dapat dikonversikan menjadi rupiah untuk membantu mengurangi atau melunasi kewajiban PBB.

Bagi warga, manfaatnya menjadi terasa lebih dekat. Memilah sampah bukan lagi sekadar tindakan menjaga kebersihan, tetapi memiliki konsekuensi ekonomi yang bisa dirasakan langsung.



Kepala Bidang Program dan Pembangunan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Padang Fuad Syukri mengatakan, kekuatan Bank Sampah Pondok Permai terletak pada pengelolaan yang tumbuh dari masyarakat dan terus dikembangkan melalui inovasi.

Menariknya, pengelolaan tidak berhenti pada sampah anorganik. Sisa makanan dimanfaatkan melalui komposter dan taman biopori. Sebagian diolah menjadi ecoenzym untuk kebutuhan rumah tangga.




Di sisi lain, kreativitas warga mengubah material bekas menjadi produk bernilai guna, seperti sabun rumah tangga, tas kerajinan dan berbagai produk daur ulang.
Rantai pengelolaan itu kemudian diperkuat dengan kolaborasi. Bank Sampah Pondok Permai bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Sampah (LPS), PT Semen Padang, serta pengepul skala besar. Sampah bernilai ekonomi rendah pun mendapat ruang untuk dikelola.

Pengalaman tersebut memperlihatkan satu hal penting: keberhasilan bank sampah bukan semata soal berapa banyak sampah yang dikumpulkan, melainkan seberapa jauh sampah dapat kembali masuk ke dalam siklus pemanfaatan.

Apresiasi melalui Padang Rancak Award 2025 juga dimanfaatkan untuk memperkuat sarana dan prasarana. Artinya, penghargaan tidak berhenti sebagai simbol, tetapi dikembalikan menjadi modal untuk mengembangkan gerakan warga.

Model Pondok Permai memberi pelajaran sederhana. Ketika memilah sampah menghasilkan manfaat nyata, kebiasaan yang semula terasa merepotkan dapat berubah menjadi gerakan bersama.

Bagi masyarakat, langkahnya bisa dimulai dari rumah: pilah sampah, kurangi sampah organik yang terbuang, manfaatkan kembali material yang masih berguna, dan cari tahu apakah bank sampah di sekitar tempat tinggal memiliki skema tabungan serupa.
Sebab, mungkin saja sesuatu yang selama ini kita sebut sampah sebenarnya hanya barang yang belum menemukan nilai barunya.(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update