PADANG PANJANG, pasbana– Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang melalui Program Pascasarjana akan menggelar The 2nd International Conference on Arts, Media and Culture (ICAMAC 2) pada 21 Oktober 2026. Mengusung tema “Arts, Folklore, and Ecology” (Seni, Folklor, dan Ekologi), konferensi internasional ini menjadi ruang pertukaran gagasan tentang hubungan seni, budaya, dan keberlanjutan lingkungan.
Sebanyak 189 peserta dari berbagai negara dijadwalkan mengikuti kegiatan tersebut.
Ketua Panitia ICAMAC 2, Dr. Suci Fajrina, M.Pd., mengatakan konferensi ini merupakan bagian dari rangkaian Festival Kesenian Indonesia XIII. Forum tersebut mempertemukan peneliti, akademisi, dan praktisi untuk mengeksplorasi keterkaitan seni, media, folklor, dan ekologi.
Ketua Panitia ICAMAC 2, Dr. Suci Fajrina, M.Pd., mengatakan konferensi ini merupakan bagian dari rangkaian Festival Kesenian Indonesia XIII. Forum tersebut mempertemukan peneliti, akademisi, dan praktisi untuk mengeksplorasi keterkaitan seni, media, folklor, dan ekologi.
Menurut Suci, seni dan tradisi budaya tidak hanya menjadi ekspresi kreativitas dan identitas masyarakat, tetapi juga menyimpan pengetahuan yang dapat memperkaya pemahaman tentang hubungan manusia dengan lingkungan.
“ICAMAC 2 diharapkan tidak hanya menjadi forum berbagi hasil penelitian, tetapi juga ruang untuk membangun kolaborasi dan memperluas perspektif mengenai hubungan seni, folklor, dan ekologi,” ujar Suci saat ditemui di sekretariat panitia, Senin (19/10).
Ia berharap konferensi ini dapat melahirkan gagasan yang relevan bagi pengembangan ilmu pengetahuan, pelestarian budaya, serta peningkatan kesadaran terhadap keberlanjutan lingkungan.
Direktur Pascasarjana ISI Padangpanjang, Dr. Rasmida, S.Sn., M.Sn., menjelaskan bahwa konferensi ini menghadirkan lima pembicara utama (keynote speakers) dari sejumlah negara. Mereka adalah Dr. Megan Collins dari Selandia Baru, Prof. Dr. Muh. Anis MD Nor dari Malaysia, Prof. Dr. Rachmi Diyah Larasati dan Dr. Katia Chaterji dari Amerika Serikat, serta Prof. Dr. Asril, S.S.Kar., M.Hum., dari Indonesia.
Selain itu, ICAMAC 2 melibatkan pembicara undangan (invited speakers) dari lima perguruan tinggi seni, yakni Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, ISI Bali, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, Institut Kesenian Jakarta (IKJ), dan ISBI Aceh.
Kehadiran para narasumber tersebut diharapkan memperkaya diskusi melalui beragam perspektif keilmuan dan pengalaman di bidang seni, folklor, serta ekologi.
Rasmida menambahkan, partisipasi 189 peserta dari berbagai negara menjadi peluang untuk memperluas pertukaran pengetahuan lintas budaya, memperkuat jejaring akademik, dan membuka kerja sama antarlembaga dalam penelitian maupun praktik kreatif.
Tema “Arts, Folklore, and Ecology” juga menyoroti pentingnya keterhubungan kreativitas seni, pengetahuan tradisional, warisan budaya, dan kesadaran ekologis. Cerita rakyat, ritual, serta kearifan lokal tidak hanya menjadi bagian dari identitas masyarakat, tetapi juga dapat menginspirasi penciptaan karya seni dan pemikiran tentang pelestarian lingkungan.
Suci menjelaskan, di tengah perubahan sosial dan lingkungan, seni dan budaya memiliki peluang untuk menghadirkan cara pandang baru dalam memahami hubungan manusia dengan alam. Melalui karya seni, media, dan kajian akademik, pengetahuan lokal dapat didokumentasikan, dikembangkan, serta diperkenalkan kepada masyarakat luas dengan pendekatan yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Konferensi ICAMAC 2 akan diselenggarakan secara hibrida, yakni melalui pertemuan luring dan daring. Format ini diharapkan membuka kesempatan lebih luas bagi akademisi dan praktisi dari berbagai wilayah untuk berpartisipasi dalam diskusi dan membangun kolaborasi di bidang seni, media, budaya, serta lingkungan.
Rasmida menegaskan, penyelenggaraan ICAMAC 2 merupakan upaya ISI Padangpanjang memperkuat kontribusi perguruan tinggi seni dalam pengembangan pengetahuan dan praktik kebudayaan yang berkelanjutan.
“Forum ini sekaligus menjadi momentum untuk menegaskan pentingnya seni, folklor, dan kearifan lokal dalam menjaga warisan budaya serta membangun kesadaran terhadap kelestarian lingkungan,” tuturnya.
(/Soerya)*




