Pasbana - Pasar saham ibarat laut. Ketika gelombang meninggi dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah, investor tidak harus terus menatap layar dengan cemas. Ada pilihan yang lebih produktif: mengevaluasi saham, menyusun strategi, dan membangun alat bantu untuk mengambil keputusan yang lebih terukur.
Prinsip itulah yang melandasi pengembangan stock screener berbasis skor, sebuah sistem penyaringan saham yang menggabungkan analisis fundamental, teknikal, pergerakan broker, arus transaksi, dan manajemen risiko. Tujuannya bukan meramal saham yang pasti naik, melainkan membantu investor ritel memilah peluang berdasarkan kriteria yang jelas.
Menyaring Saham dengan Sistem Skor 100 Poin
Alih-alih mengandalkan intuisi, investor dapat mengubah pertanyaan yang berulang sebelum membeli saham menjadi daftar periksa dengan bobot penilaian. Data yang tersedia di Stockbit dan indikator teknikal dari TradingView bisa menjadi bahan untuk membangun sistem tersebut.
Berikut lima komponen yang dapat digunakan:
- Bandarmologi (30 poin): mengevaluasi akumulasi dan distribusi broker dalam periode satu minggu, satu bulan, dan tiga bulan. Konsistensi transaksi serta perbandingan harga beli rata-rata broker dengan harga pasar menjadi bahan pertimbangan.
- Analisis teknikal (25 poin): menilai posisi harga terhadap MA20, MA50, dan MA200, struktur tren, volume perdagangan, kekuatan relatif terhadap IHSG, serta jarak ke area support.
- Momentum dan arus transaksi (20 poin): mengamati running trade, perubahan aktivitas broker, dan transaksi bersih investor asing.
- Fundamental (15 poin): memeriksa pertumbuhan laba, PER, ROE, margin operasi, arus kas operasi, DER, likuiditas, dan dividend yield.
- Manajemen risiko (10 poin): mengukur kelayakan harga masuk, batas kerugian atau stop loss, target keuntungan, dan rasio risiko terhadap potensi imbal hasil.
Investor juga dapat memantau perubahan jumlah pemegang saham serta keterbukaan informasi transaksi direksi, pengendali, dan pemegang saham signifikan.
Skor Tinggi Bukan Jaminan Saham Layak Dibeli
Sistem ini membagi hasil penilaian menjadi tiga kategori. Skor minimal 65 masuk kandidat beli, skor 50–64 masuk daftar pantauan, sedangkan skor di bawah 50 dihindari atau dipantau kembali jika muncul sinyal akumulasi baru.
Namun, skor tinggi tidak otomatis menjadi sinyal beli. Saham dengan fundamental kuat bisa saja memiliki momentum yang melemah atau posisi harga yang terlalu jauh dari support. Sebaliknya, lonjakan laba hingga ribuan persen belum tentu mencerminkan kinerja operasional yang berkelanjutan.
Karena itu, kualitas data, kondisi pasar, dan konfirmasi harga tetap perlu diperiksa. Jumlah pemegang saham yang turun atau aktivitas broker tertentu juga tidak cukup untuk membuktikan adanya akumulasi oleh investor besar.
Mulai dari Spreadsheet, Bukan Teknologi Mahal
Investor pemula tidak harus langsung membangun ekstensi peramban atau sistem otomatis. Spreadsheet sederhana sudah cukup untuk memulai: tentukan pertanyaan, pilih data pendukung, berikan skor, lalu susun aturan keputusan yang konsisten.
Bobot penilaian pun dapat disesuaikan dengan gaya investasi. Investor jangka panjang mungkin memberi porsi lebih besar pada fundamental, sedangkan trader momentum dapat menitikberatkan tren, volume, dan arus transaksi.
Pada akhirnya, tujuan penyaringan saham bukan menemukan kepastian di tengah ketidakpastian pasar, melainkan mengurangi keputusan impulsif dan memperjelas risiko sebelum modal ditempatkan.
Ketika IHSG memerah, investor bisa memanfaatkan waktu untuk memperbaiki sistem, menguji strategi dengan data historis, dan mencatat hasilnya. Literasi keuangan bukan sekadar mengetahui saham mana yang menarik, tetapi juga memahami alasan membeli, risiko yang dihadapi, dan kapan sebaiknya menunggu.(*)




