![]() |
| Source: Regia |
Oleh: Regia
Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Andalas
Padang, pasbana – Abah Lamo Cafe menjadi salah satu usaha kuliner yang telah bertahan selama sekitar 20 tahun di kawasan Business Center Universitas Andalas (Unand). Berawal dari sebuah pondok sederhana, usaha milik Ibu Reni ini kini berkembang menjadi cafe yang menjadikan mahasiswa Unand sebagai target utama pelanggan.
Di tengah ketatnya persaingan kuliner sekitar kampus yang terus bermunculan setiap tahun, Abah Lamo Cafe bertahan lewat kombinasi strategi yang sederhana: lokasi yang dekat dengan aktivitas mahasiswa, harga yang bersahabat dengan kantong mahasiswa, variasi menu yang sesuai selera, dan keramahan dalam melayani pelanggan.
Usaha ini dijalankan oleh Ibu Reni bersama sang anak, Felisa, yang turut membantu operasional sehari-hari. Menurut Ibu Reni, Abah Lamo Cafe telah berdiri di lokasi yang sama selama kurang lebih 20 tahun, jauh sebelum berkembang menjadi cafe seperti sekarang. Usaha ini bermula dari sebuah pondok kecil, dan pelanggan pertamanya justru datang dari kalangan pekerja di sekitar kawasan tersebut, sebelum akhirnya mahasiswa yang tinggal di asrama mulai berdatangan satu per satu.
![]() |
| Source: Regia |
“Awal mulanya kuli yang beli, terus ada satu per satu mahasiswa asrama yang mulai beli juga,” kenang Ibu Reni.
Cerita ini memperlihatkan bahwa loyalitas pelanggan Abah Lamo Cafe tumbuh dari mulut ke mulut di antara mahasiswa, bukan dari promosi besar-besaran. Pelanggan yang merasa cocok dengan rasa dan pelayanan kembali datang, sekaligus menyebarkan kabar tentang tempat makan tersebut ke mahasiswa lain. Cara ini terbukti efektif mengingat lingkungan kampus adalah komunitas yang relatif tertutup, sehingga rekomendasi dari sesama mahasiswa cenderung lebih dipercaya dibanding promosi konvensional.
Pemilihan lokasi menjadi salah satu keputusan strategis yang paling terasa manfaatnya bagi usaha ini. Berada tepat di kawasan Business Center membuat Abah Lamo Cafe mudah dijangkau mahasiswa tanpa harus keluar jauh dari lingkungan kampus, sehingga faktor kedekatan ini menjadi daya tarik tersendiri di tengah banyaknya pilihan tempat makan di sekitar Unand. Ketika ditanya siapa target utama pelanggannya, jawaban Ibu Reni singkat namun jelas.
“Mahasiswa Unand,” ujarnya.
Kedekatan lokasi ini membuat hampir seluruh keputusan usaha, mulai dari pemilihan menu hingga cara melayani pelanggan, disesuaikan dengan kebiasaan mahasiswa yang umumnya mencari makanan praktis, mengenyangkan, dan terjangkau di sela-sela aktivitas kuliah.
Dari sisi menu, Abah Lamo Cafe menyediakan variasi yang cukup luas, antara lain pecel ayam, ayam geprek, nasi ampera, dan soto, sehingga pelanggan memiliki beberapa alternatif setiap kali datang. Menurut Felisa, dari semua pilihan tersebut, pecel ayam adalah menu yang paling sering dipesan mahasiswa.
Soal jumlah pelanggan yang datang setiap harinya, Ibu Reni mengatakan tidak ada patokan pasti karena bergantung pada situasi hari itu.
“Kalau jumlahnya tidak tentu, tergantung ramai atau tidaknya. Kalau lagi ramai biasanya lebih banyak, kalau sepi ya lebih sedikit,” ujarnya.
Selain menu, pelayanan menjadi elemen yang tidak kalah penting dalam strategi usaha ini. Ibu Reni menekankan bahwa sikap ramah kepada mahasiswa adalah kunci menarik pelanggan, mengingat interaksi antara penjual dan pembeli di kawasan kampus berlangsung secara langsung setiap hari. Pendekatan personal semacam ini penting karena usaha di lingkungan kampus sangat bergantung pada kunjungan berulang dari kelompok pelanggan yang relatif sama.
“Harus ramah kepada mahasiswa, harus pandai-pandailah menarik mahasiswa,” katanya.
Prinsip yang sama dipegang Felisa dalam membantu operasional sehari-hari. Baginya, pelayanan yang baik adalah syarat utama agar pelanggan puas dan mau kembali.
“Harus melayani dengan baik,” ujarnya.
Selain pelayanan, Abah Lamo Cafe juga memperhatikan bagaimana caranya agar pelanggan lama bersedia kembali. Menurut Ibu Reni, makanan yang disajikan perlu terus diperhatikan, dan jika diperlukan, cara memasak bisa diubah agar pelanggan tetap tertarik dengan menu yang ditawarkan. Kesediaan untuk terus menyesuaikan produk ini menjadi salah satu bentuk strategi mempertahankan pelanggan dalam jangka panjang, bukan sekadar menarik pelanggan baru.
“Kalau enggak, diubah cara masak makanannya,” jelasnya.
Soal masukan pelanggan, Felisa mengaku belum ada kritik spesifik yang pernah membuat usaha ini melakukan perubahan besar. Namun demikian, Ibu Reni tetap terbuka mengubah cara memasak apabila diperlukan, menunjukkan bahwa evaluasi terhadap produk tetap menjadi bagian dari upaya usaha menjaga pelanggan, meski belum ada keluhan yang mendorong perubahan secara langsung.
Strategi tersebut dirasakan langsung oleh pelanggan. Nata, mahasiswa Unand yang tinggal di asrama, mengaku memilih Abah Lamo Cafe karena kombinasi lokasi, harga, dan pilihan menu yang sesuai kebutuhan mahasiswa. Baginya, kedekatan jarak dari asrama menjadi pertimbangan utama, ditambah banyaknya pilihan makanan dan harga yang masih terjangkau.
“Karena lokasinya dekat dengan kampus dan pilihan makanannya cukup banyak. Harganya juga masih terjangkau untuk mahasiswa,” ujar Nata.
Selain soal lokasi dan harga, Nata juga menilai kualitas rasa dan pelayanan yang diberikan Abah Lamo Cafe.
“Rasanya enak, pelayanannya baik, ibuknya ramah dan sigap,” ujar Nata.
Penilaian tersebut turut tercermin dari frekuensi kunjungannya yang terbilang cukup rutin, seperti diakuinya saat ditanya seberapa sering ia membeli makanan di tempat tersebut.
“Lumayan sering,” ujarnya.
Kombinasi antara lokasi yang strategis, harga yang wajar, pilihan menu yang beragam, dan pelayanan yang ramah inilah yang secara tidak langsung membentuk loyalitas pelanggan dari kalangan mahasiswa terhadap Abah Lamo Cafe.
Dalam menjalankan usaha sehari-hari, Abah Lamo Cafe dibantu oleh dua orang karyawan, meski salah satunya tidak berada di tempat saat wawancara berlangsung sehingga perannya turut diisi oleh Felisa. Keterlibatan anggota keluarga dalam kegiatan usaha ini menjadi bagian dari aktivitas Abah Lamo Cafe sehari-hari, sekaligus memperkuat kedekatan personal antara usaha ini dengan pelanggannya.
Selama sekitar dua dekade beroperasi di kawasan Business Center Unand, Abah Lamo Cafe menunjukkan bagaimana usaha kuliner di sekitar kampus dapat bertahan dengan memadukan lokasi strategis, harga terjangkau, variasi menu, dan pelayanan ramah.
Dari sebuah pondok sederhana yang awalnya hanya dikenal kalangan pekerja sekitar, hingga menjadi cafe seperti sekarang, perjalanan Abah Lamo Cafe memperlihatkan bahwa konsistensi dan kedekatan dengan pelanggan tetap menjadi kunci bertahannya usaha kuliner kampus.(*)





