Notification

×

Iklan

Iklan

Perusahaan Rugi, Apakah Sahamnya Pasti Jelek? Ini 3 Hal yang Wajib Dicek

Selasa, 03 November 2026 | 11:06 WIB
 


Pasbana  — Melihat laporan keuangan perusahaan mencatat kerugian sering kali membuat investor langsung khawatir. Angka laba bersih berubah merah, harga saham berpotensi tertekan, dan muncul dorongan untuk segera menjual kepemilikan.

Namun, dalam analisis fundamental saham, perusahaan yang merugi belum tentu memiliki bisnis yang buruk. Sebaliknya, perusahaan yang masih mencetak laba juga belum tentu sehat secara keuangan.
Kuncinya adalah memahami penyebab kerugian tersebut. Sebab, rugi akibat operasional yang memburuk tentu berbeda dengan kerugian akuntansi akibat penurunan nilai aset atau biaya restrukturisasi.

Mengenal 3 Jenis Kerugian Perusahaan


Sebelum mengambil keputusan investasi, investor perlu memahami tiga jenis kerugian berikut.

1. Rugi operasional: Sinyal masalah bisnis inti
Kerugian operasional terjadi ketika aktivitas utama perusahaan tidak mampu menghasilkan keuntungan. Pendapatan yang melemah, biaya produksi meningkat, atau beban operasional membengkak dapat menekan kinerja perusahaan.
Jika kondisi ini berlangsung beberapa periode, investor perlu mengevaluasi kemampuan perusahaan mempertahankan bisnisnya.

2. Rugi nonkas: Kerugian yang tidak selalu menguras kas
Contohnya adalah impairment atau penurunan nilai aset. Perusahaan dapat mencatat beban besar karena nilai aset dalam laporan keuangan dianggap sudah tidak sesuai dengan nilai yang dapat dipulihkan.
Kerugian tersebut tidak selalu disertai pengeluaran kas pada periode pencatatan. Namun, investor tidak boleh mengabaikannya karena bisa menunjukkan penurunan prospek ekonomi aset atau bisnis perusahaan.

3. Rugi akibat kejadian satu kali
Kerugian juga dapat muncul karena restrukturisasi, pelepasan aset, atau biaya hukum tertentu.
Beban seperti ini perlu dianalisis lebih jauh. Apakah benar hanya terjadi sekali atau justru menjadi bagian dari persoalan bisnis yang berulang?

Empat Indikator Fundamental yang Wajib Diperiksa


Investor dapat menggunakan empat indikator berikut untuk menilai kesehatan emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI).
  • Pendapatan (revenue): Apakah penjualan masih tumbuh atau justru terus menurun?
  • Laba operasional: Apakah bisnis inti masih mampu menghasilkan keuntungan?
  • Arus kas operasional: Apakah perusahaan benar-benar menghasilkan uang dari kegiatan usahanya?
  • Utang dan likuiditas: Apakah perusahaan mampu membayar kewajiban jangka pendek maupun jangka panjang?

Jangan lupa membandingkan laporan keuangan secara tahunan (year-on-year) dan kuartalan. Perhatikan juga catatan atas laporan keuangan untuk mengetahui sumber kerugian secara lebih terperinci.

Jangan Terjebak Angka Merah


Dalam investasi saham, laba bersih hanyalah salah satu bagian dari gambaran besar kondisi perusahaan. Investor perlu melihat kualitas pendapatan, kemampuan menghasilkan kas, struktur utang, dan prospek bisnis ke depan.

Sebagai contoh, perusahaan yang mengalami rugi akibat penurunan nilai aset tetapi masih memiliki arus kas operasional kuat tentu membutuhkan analisis berbeda dibandingkan perusahaan yang terus merugi karena penjualan melemah dan utangnya membengkak.

Prinsipnya, jangan buru-buru membeli hanya karena harga saham turun, tetapi jangan pula langsung menjual hanya karena laba bersih mencatat angka negatif.

Pahami penyebab kerugiannya sebelum mengambil keputusan. Sebab, investor yang memahami laporan keuangan tidak sekadar membaca angka merah dan hijau, tetapi mampu melihat cerita bisnis di balik angka tersebut.

Semakin baik literasi keuangan, semakin rasional pula keputusan investasi yang diambil.
(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update