Notification

×

Iklan

Iklan

" Harus Ada Penegakan Hukum Bagi Pembabat Hutan Mangrove Untuk Jalan di Apar "

17 Desember 2018 | 20:52 WIB Last Updated 2018-12-17T13:52:11Z
Ditulis oleh :
Tomi Tanbijo *)

Pasbana.com - Pariaman --- Hutan Mangrove yang dibabat di Desa Apar Kota Pariaman adalah preseden buruk bagi jalannya kegiatan konservasi hutan mangrove di Pariaman.

Perlu diketahui , lahan mangrove di Desa Apar ini luasnya lebih kurang 10 hektar. Kawasan ini terletak di dua desa (Desa Apar dan Desa Ampalu).

Statusnya tanah ulayat nagari yang kepemilikannya meliputi 4 desa (Desa Apar, Desa Mangguang, Desa Ampalu dan Desa Tanjuang Saba).

Penguasaan lahan berada di bawah wewenang Kerapatan Adat Nagari (KAN). Tapi, dalam praktek di lapangan, ada beberapa masyarakat juga mengklaim itu lahan milik mereka.

Lahan ini meliputi pantai, hutan pinus, talao (talago), kawasan mangrove dan ada konservasi penyu. Lahan berbatas dengan laut, sungai Muaro Mangguang, areal persawahan dan pemukiman warga.

Kawasan mangrove  ini di bawah tahun 2010, kondisinya sangat kritis akibat ditebangi oleh warga sekitar. Batang mangrove diambil untuk kayu bakar dan kayu bangunan.

Program rehabilitasi dan rekonstruksi kawasan mangrove ini sebenarnya sudah dilaksanakan sejak lama oleh pemerintah. Areal banyak ditanami bibit mangrove. Namun bibit dan areal tak dipelihara dengan baik.

Pada 2010 atau 2011, Green Tourism Institute dan Sumatera and Beyond miliknya perintis SOTO Tourism, Ridwan Tulus⁩, mengajak kami Tabuik Diving Club (TDC) sebuah Komunitas Pehobi Selam dan Pegiat Konservasi Terumbu Karang di Pariaman berkolaborasi bagaimana menyulap kawasan mangrove yang kritis ini menjadi kawasan wisata edukasi konservasi mangrove yang belakangan kami namai Pariaman Mangrove Edupark.

Berbagai pendekatan kami lakukan kepada pemilik lahan dan semua pihak, termasuk kepada warga sekitar. Yang menggerakkan adalah adik-adik anggota TDC yang kebetulan warga nagari setempat.

Sejak adanya pelaksanaan paket wisata edukasi konservasi tersebut dan didukung oleh seluruh elemen masyarakat setempat, proses rehabilitasi dan rekonstruksi kawasan mangrove lebih masif dilakukan.

Penanaman bibit mangrove dilaksanakan hampir tiap pekan dengan melibatkan berbagai kelompok wisatawan maupun anak-anak sekolah yang kebetulan berkunjung ke konservasi penyu dan berkegiatan di kawasan mangrove.

Bibit yang ditanam dijaga dan dirawat. Monitoring dilaksanakan secara berkala. Pendataan juga terus dilakukan. Semua melibatkan adik-adik anggota TDC yang sebagian besar anak-anak muda kampung nelayan. Mereka berpartisipasi sambil belajar.

Beberapa tahun setelah itu, bibit yang ditanam tumbuh bagus. Kawasan ini berubah total menjadi areal tanaman mangrove yang hijau dan lumayan luas. Sementara upaya penanaman di lahan-lahan potensial masih terus dilakukan melalui program edukasi.

Lahan yang dulu kritis, berubah jadi hijau. Beberapa habitat/biota kawasan mangrove yang dulu sempat tak ditemukan lagi di kawasan ini, setelah mangrove tumbuh bagus, habitat itu muncul kembali, termasuk habitat burung.

Sembari terus melakukan sosialisasi dan edukasi kepada tamu wisatawan yang datang ke konservasi penyu, kepada masyarakat sekitar akan arti penting kawasan mangrove, supaya pohon dalam areal mangrove tak lagi ditebangi kami juga terus mengajak anak-anak muda sekitar kawasan bergabung melaksanakan misi penyelamatan mangrove Apar ini.

Alhamdulillah seiring perjalanan waktu, semakin banyak adik-adik pemuda warga desa sekitar kawasan yang mau bergabung dengan TDC, ikut dalam gerakan-gerakan penyelamatan mangrove, konservasi penyu dan juga terumbu karang.

Adik-adik pemuda kampung nelayan ini diikutkan berbagai pelatihan. Mulai dari pelatihan dan sertifikasi selam, pelatihan dan sertifikasi pengelola kawasan konservasi, termasuk pelatihan di bidang pariwisata. Sebagian dari mereka kini bekerja di Konservasi Penyu Pariaman milik DKP Provinsi Sumbar yang dulu di bawah Pemko Pariaman.

Seiring perjalanan waktu, semakin tinggi pula ancaman bagi keberlangsungan kawasan mangrove. Di tengah kami TDC aktif bergerak melakukan rehabilitasi kawasan mangrove, ada saja oknum warga yang main kucing-kucingan menebang pohon di dalam kawasan mangrove untuk keperluan mereka.

Melihat fenomena tersebut, kami lantas putar otak bagaimana mengakali supaya aktivitas penebangan liar pohon dalam kawasan mangrove oleh oknum warga tak lagi terjadi. Berbagai upaya dan pendekatan kami lakukan kepada para pelaku penebang. Baik secara lunak bahkan secara ancaman hukum.

Pada 2017, kebetulan saja kami ditawarkan program CSR oleh PT. Pertamina DPPU BIM. Salah satunya untuk program konservasi mangrove. Program CSR misinya bagaimana menyelamatkan kawasan lalu dari situ bisa pula memberdayakan potensi kawasan sebagai daya tarik wisata yang akhirnya memberi dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Salah satu kegiatan yang kami buat dari program CSR Pertamina yakni membangun jembatan trekking menuju hutan mangrove. Dari program ini kami ingin kenalkan mangrove kepada tamh yang datang. Selain itu juga ada program rehabilitsi kawasan, termasuk pendataan dan monitoring.

Kenapa jembatan trekking pilihannya? Ada beberapa pertimbangan. Pertama, untuk tujuan edukasi konservasi sesuai misi organisasi TDC. Dengan adanya jalur ke hutan mangrove diharapkan semakin banyak orang yang kenal apa itu mangrove dan apa pula fungsinya. Sehingga tumbuh kesadaran bersama untuk menjagannya.

Kedua, sebagai langkah antisipasi terjadinya aksi penebangan liar oleh warga sekitar. Selama ini warga berani menebang pohon, karena kawasan sekitar mangrove sepi. Mereka para penebang bisa seenaknya menebang tanpa ada yang melihat dan menegur.

Sengaja kami pilih gerbang jembatan trekking di lokasi sekarang, sebab di lokasi itu dulunya marak terjadi penebangan pohon. Selain lokasinya dulu tersembunyi, di situ pohon mangrove banyak yang sudah tumbuh besar dan juga lokasinya berdekatan dengan pemukiman warga.

Sejak adanya jembatan trekking mangrove, kawasan ini saban hari ramai dikunjungi, walau kadang cuma datang sekedar pergi berswafoto. Karena tiap hari selalu ada orang datang, akhirnya oknum warga yang biasa menebang pohon jadi takut juga. Mereka tak lagi berani menebang pohon di kawasan mangrove.

Panjang cerita suka duka yang dilalui TDC dalam upaya menyelamatkan kawasan mangrove Apar yang sedikit ini. 

Singkatnya, apa yang diupayakan bertahap membuahkan hasil. Misi penyelamatan sudah mulai tampak. Perubahan kawasan sangat siknifikan dalam beberapa tahun terakhir. Dari dulu kritis, kini sebagian sudah hijau.

Yang membanggakan, dari kawasan mangrove Apar yang sedikit ini, telah banyak sarjana yang dilahirkan. Kawasan ini sampai sekarang menjadi pusat studi bagi mahasiswa dari berbagai kampus di Sumbar, luar Sumbar bahkan mahasiswa dari luar negeri.

Niat besar kami TDC bekerjasama dengan bang Ridwan Tulus di bawah bendera Green Tourism Institute yang beliau gawangi, bagaimana menjadikan kawasan mangrove Apar dan perkampungan nelayan di sekitarnya sebagai destinasi wisata konservasi/ramah lingkungan yang berbasis sosiokultur masyarakat pesisir (Community Based Tourism).

Visi misi organisasi kami TDC yang konsisten di konservasi pesisir sangat cocok dengan misi Green Tourism Institute yakni 'Protect Nature, Protect Culture, Empowering and Bring Benefit for Local People and than Support Conservation'.

Kami sangat bersyukur bisa dipertemukan dalam satu wadah dan satu misi yang sama dengan tokoh pegiat wisata ramah lingkungan sekelas bang Ridwan Tulus. 

Banyak ilmu dan pengalaman yang kami dapat dari beliau, terutama bagaimana menjadi tour operator yang peduli terhadap lingkungan.

Hal lain yang membanggakan, berkat bimbingan dan arahan dari banyak pihak, TDC komunitas yang awalnya cuma tempat berkumpul pehobi olahraga selam, bisa bertransformasi menjadi organisasi mitra konservasi yang walau belum seberapa berkontribusi, tapi akan terus berupaya memberi manfaat bagi upaya pelestarian kawasan pesisir perairan dan laut.

Adik-adik pemuda kampung nelayan yang kini jadi pengurus dan anggota TDC, mereka yang dulu sebagian berprofesi nelayan yang saban hari mencari dan menangkap ikan yang kadang tak ramah lingkungan, dengan berbagai kompetensi yang kini mereka kuasai, salah satunya sebagai pengelola konservasi, kini mereka yang aktif terlibat dalam menjaga dan melestarikan ekosistem pesisir, perairan, laut dan bawah laut di kampung mereka.

Harapannya, dengan adanya perubahan paradigma dan kesiapan SDM ini, mudah- mudahan kedepan potensi alam dan lingkungan pesisir, perairan dan laut yang bernilai ekonomi yang dimiliki Pariaman bisa dikelola dan dimanfaatkan secara ramah dan berkelanjutan oleh masyarakat pesisirnya. Baik di sektor pariwisata maupun di sektor ekonomi lainnya.

Atas dasar cerita di atas tadi pulalah, kenapa kami TDC sangat sedih dan marah menyaksikan aksi pembabatan kawasan mangrove Apar yang dijadikan jalan. Kami kuatir kejadian pembabatan mangrove untuk jalan oleh oknum-oknum tak bertanggungjawab itu akan jadi senjata bagi para oknum warga yang sudah berhenti menebang pohon mangrove untuk menyerang kami.

Kalau dibiarkan oknum pelaku pembabatan hutan mangrove untuk proyek jalan itu bebas begitu saja, tanpa ada proses penegakan hukum, sangat dikuatirkan aksi pembabatan itu akan dicontoh oleh warga yang sudah diedukasi dan kini tak lagi menebang pohon.

Bisa saja mereka menyerang kami TDC dengan kalimat "Aden manabang sabatang dua batang waang tagah. Itu urang nan maabihan mangrove jo alat berat, waang pabia an je nyeh". 

Kalau ini yang dikemukakan para penebang yang dulu itu, maka habislah 'kungfu' awak menjawabnya. Mau apa kita lagi.

Justru itu, kami atas nama TDC Pariaman mohon bantuan kepada bapak/ibu, abang/kakak, dunsanak para pegiat dan pecinta lingkungan supaya mendorong kasus pembabatan hutan mangrove Apar yang dijadikan jalan ini agar prosesnya dilanjutkan sampai ke penegakan hukum. 

Ini demi memberi efek jera bagi yang lain.
Terimakasih atas bantuan dan dukungan bapak/ibu, abang/kakak, dunsanak di grup ini. Mudah-mudahan upaya kita bersama dalam menjaga kelestarian alam dan lingkungan senantiasa dimudahkan dan diridhoi oleh Allah SWT. Amiinn YRA. Salam...

*) Penulis adalah seorang Jurnalis yang juga Penggerak Konservasi Hutan Mangrove dan Penyu di Pariaman