Notification

×

Iklan

Iklan

Zubir Said: Putra Minang Pencipta Lagu Kebangsaan Singapura

06 April 2019 | 09.38 WIB Last Updated 2019-04-06T02:38:36Z

Pasbana --- Singapura memiliki lagu kebangsaan berjudul Majulah Singapura. Lagu yang diciptakan oleh Zubir Said ini diciptakan pada tahun 1958, meskipun bangsa Singapura baru menjadikan lagu kebangsaannya pada tahun 1965. Tak disangka ternyata Zubir Said sendiri adalah orang Indonesia!

Tenyata Zubir Said yang berasal dari Bukittinggi Sumatera Barat ini memiliki bakat musik yang terlihat dari bangku sekolah dasar. Pada saat itu guru yang melihat bakatnya tersebut memperkenalkan teknik membaca notasi.

Berkat sang guru akhirnya Zubir Said memiliki kelompok musik pada usia belia. Berawal memainkan seruling buatannya sendiri, kini beliau bisa memainkan alat instrumental  seperti gitar, drum, biola juga piano dengan cara autodidak.

Kehidupan Zubir Said pada saat itu tidak mudah, Zubir Said anak pertama dari delapan bersaudara memiliki tanggung jawab bersama ayahnya untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sedangkan Ibunya telah meinggal pada saat Zubir Said berusia 7 tahun.

Sempat menjadi buruh pabrik batu bara, Zubir Said sempat menerima tawaran dari seorang temannya untuk menjadi juru ketik. Kecintaannya terhadap musik tidak membuat berhenti mesti disisi lain harus mencari nafkah.

Kepergian Zubir Said menuju Singapura tanpa sepengetahuan ayahnya, karena pada saat itu ayah dari Zubir Said tidak setuju jika beliau pergi menuju negara tersebut. Kencintaannya terhadap musik adalah salah satu penyebabnya, namun sang ayah beranggapan pada saat itu jika musik sendiri bertentanggan dengan agama. Selain itu Zubir said menganggap bahwa Singapura adalah dunia baru yang menjanjikan segala gemerlap dan kemakmuran, oleh karena itu beliau merasa akan mendapatkan hal itu di Singapura.

Mempopulerkan karya melalui media tempat ia bekerja

Sempat bekerja sebagai musisi di Singapura, bergabung dengan Grup Bangsawan, sebuah grup opera di mana para pemainnya berasal dari Melayu. Tak lama setelah itu, beliau memutuskan untuk bekerja di perusahanaan rekaman His Master’s Voice. Di perusahaan itulah beliau bertemu dengan perempuan Jawa penyanyi keroncong, Tarminah Kario Wikromo, yang kemudian dipinangnya pada tahun 1938. Ia dan isterinya, sempat kembali ke Bukittinggi, sebelum Perang Dunia II pada tahun 1941.


Lima tahun kemudian beliau kembali ke Singapura untuk ke dua kalinya, ia justru mengambil pekerjaan sebagai juru foto sekaligus jurnalis di surat kabar Oetoesan Melajoe. Dengan bekerja di surat kabar, Zubir Said memiliki keyakinan tentang peluang yang lebih besar untuk memperkenalkan dan menyebar-luaskan karya-karya musiknya.

Ternyata benar karya Zubir Said semakin dikenal, kini beliau dipercaya menjadi komposer film-film Melayu produksi Shaw Brother. Salah satu sinema yang urusan musiknya ditangani Zubir, berjudul Chinta, menjadi film paling laris. Karier Zubir selanjutnya semakin memuncak, terlihat setelah bergabung dengan perusahaan film yang lebih besar di Singapura, Cathay Keris. Selama 14 tahun beliau berkarier di sini dan menghasilkan banyak karya musik untuk film.

Pada tahun 1958 Zubir Said membuat lagu yang berjudul “Majulah Singapura” yang ditujukan kepada Dewan Kota Singapura. Selang satu tahun berlalu, akhirnya lagu tersebut memenuhi keteria untuk dijadikan lagu kebangsaan Singapura.

Beliau yang kini telah meninggal diusia 80 tahun telah mendapatkan berbagai macam penghargaan ini kini tidak tercatat kembali dalam kewarganegaraan Indonesia karena pada tahun 1967 beliau resmi menjadi warga negara Singapura.(Muhammad Kemal/Pikiran Rakyat)***
×
Berita Terbaru Update