Sektor Pariwisata dan Seni Budaya Bukittinggi, Butuh Konsep Serta Dana Besar

Iklan Semua Halaman


Sektor Pariwisata dan Seni Budaya Bukittinggi, Butuh Konsep Serta Dana Besar

22 March 2020


Agam - Kota/Kabupaten harus memiliki konsep atau master plan pariwisata yang memiliki nilai jual tinggi. Semua unsur yang berkompeten maupun unsur penunjang pariwisata harus melebur pada pola pemikiran global yang bertindak lokal dalam rangka meningkatkan nilai posisi tawar pariwisata daerah.

Meski kota/kabupaten saat ini dalam suasana waspada penyebaran virus corona-19, semangat para pegiat pariwisata dan pegiat seni budaya kota Bukittinggi, larut dalam diskusi Perumusan Konsep Visi dan Misi Bukittinggi Tourism, yang berlangsung pada hari Sabtu Malam, (20/03) di Takeya-Restoran Masakan Jepang, di Komplek Biaro Auto Center, Kecamatan IV Angkek, Kabupaten Agam.

Diskusi dinamika dunia pariwisata dan seni budaya ini merupakan diskusi lanjutan yang digagas oleh para pegiat pariwisata dan seni budaya kota Bukittinggi. Hadir dalam acara tersebut diantaranya Ketua Dewan Kesenian Bukittinggi Dedy Yerza, Tokoh Masyarakat Bukittinggi Datuak Kampung Dalam, Fauzan Haviz, Erdison Nimli, Amrizal, M. Fadhli, Yusar Ade, Ted Ramnez, Robi Sugara, Iswandi Lala, Perhimpunan Pramuwisata Indonesia serta Pelaku Usaha Pariwisata Bukittinggi.

Dalam acara tersebut selaku Tokoh Muda Bukittinggi, Fauzan Haviz mengatakan, "Selain adanya konsep pariwisata yang memiliki nilai jual, promosi dan publikasi daerah wisata juga harus didukung oleh anggaran yang besar. Sulit bagi daerah untuk melakukan suatu trobosan baru jika tidak didukung oleh dana yang memadai."

Pariwasata dan seni budaya harus menjadi satu kesatuan yang harmonis dalam rangka meningkatkan posisi tawar suatu daerah untuk menarik minat para wisatawan domestik dan mancanegara. Lalu, dalam hal teknis butuh persiapan sarana dan prasarana, butuh tempat, infrastruktur yang pendukung pariwisata dan seni budaya, semuanya itu harus ada anggaran yang cukup besar, kata Fauzan.

Saran saya, lanjut Fauzan, "Tidak bisa juga membahas pariwisata ini jika tidak ada kolaborasi antar Pemerintah Kota Bukittinggi dengan Pemerintah Kabupaten Agam. Dua wilayah ini memiliki keterikatan sejarah yang kental. Termasuk berkolaborasi dengan Pemerintah daerah lain seperti Payakumbuh, Limapuluh Kota, Pasaman, Padang Panjang dan pemerintah daerah lainnya."

Sehingga ada kerja sama antar pemerintahan kota/kabupaten yang memiliki visi dan misi yang sama dalam memajukan aspek pariwisata, seni dan budaya. "Selain itu, minimal pagelaran acara olah raga yang berskala lokal maupun nasional bahkan internasional juga harus dipersiapkan karena kegiatan ini juga salah satu daya tarik wisatawan untuk datang ke daerah kita yang dikenal dengan nama sport tourism " ujar Fauzan.

Dalam diskusi yang bernuansa kekerabatan, santai yang penuh dengan kesan kontruktif, Tokoh Masyarakat Kurai Bukittinggi, Datuak Kampung Dalam menambahkan bahwa untuk meningkatkan potensi pariwisata lokal, memang harus didukung oleh seni budaya lokal serta anggaran yang sesuai.

Lanjut Datuak Kampung Dalam, "Kita harus mengedepankan seluruh aspek budaya lokal kita untuk meningkatkan nilai jual pariwisata. Mulai dari pengadaan fasilitas tempat latihan para pegiat seni yang sampai saat ini belum ada, lalu dari sopan santun cara berkomunikasi terhadap tamu, pengenalan pakaian tradisional, fasilitas belanja, kuliner, hotel serta objek wisata yang terbaru. Harus ada inovasi atau spekulasi menuju wisata kelas dunia."

Sementara itu ada hal yang berbeda, menurut M. Fadhli yang berbicara tentang penamaan label Bukittinggi Kota Wisata. Hal itu terlalu umum/general, dengan kata lain Bukittinggi tidak menginformasikan keunggulan pariwisata yang spesifik.

"Kalau Bukittinggi Kota Wisata itu menurut saya, memberatkan, seolah Kota Bukittinggi harus bisa menyediakan segala keinginan tamu yang datang untuk berwisata apapun. Sementara Bukittinggi hanya punya objek wisata yang itu-itu saja seperti Jam Gadang dan Ngarai Sianok, tidak ada yang baru," serunya.

Lanjut Fadhli, perlu pemberdayaan seluruh elemen masyarakat secara serius tentang sadar wisata sehingga Kota Bukittinggi betul-betul memiliki identitas khusus dan memiliki nilai jual yang berbeda dimata para wisatawan, sehingga berdampak kepada kesejahteraan masyarakat dan peningkatan anggaran pendapatan daerah. (Rizky)