Notification

×

Iklan

Iklan

Rasa Aman

18 Januari 2021 | 15:06 WIB Last Updated 2021-01-18T08:06:28Z




Pasbana.com -- Badai disertai gelombang tinggi di perairan Pariaman, Minggu sore (17/1/21) menyebabkan, sekira 60-an orang wisatawan yang sedang berwisata di Pulau Angso Duo tak bisa kembali ke dermaga Muaro Pariaman. 

Wisatawan dari berbagai daerah dan berbagai usia yang terkurung terpaksa 'diinapkan' malam itu di fasilitas-fasilitas bangunan yang ada di Pulau Angso Duo. Dikabarkan, baru Senin pagi (18/1/21) dievakuasi.

Selain puluhan wisatawan terkurung di Pulau Angso Duo, badai kuat yang terjadi pada Minggu sore itu juga menyebabkan kecelakaan sebuah perahu. Perahu berisi empat pemancing dari luar daerah terbalik.

Perahu dikabarkan terbalik di sekitar perairan Gosong Subareh di belakang Pulau Ujuang. Pemancing dan nahkoda yang jadi penumpang perahu berhasil diselamatkan oleh nelayan, dan dievakuasi pada Minggu malam ke pantai.

Peristiwa wisatawan terkurung dan terpaksa diinapkan seadanya di Pulau Angso Duo, maupun peristiwa perahu terbalik akibat faktor cuaca buruk, bukan satu dua kali terjadi di perairan Pariaman. 

Bisa dibilang peristiwa dan kecelakaan laut serupa hampir tiap tahun terjadi di perairan Pariaman. Bahkan, dalam beberapa kali peristiwa kecelakaan menyebabkan korban jiwa dan luka-luka.

Rangkaian insiden dan peristiwa demi peristiwa naas dalam kegiatan wisata maupun aktivitas bahari di Pariaman, benar adalah takdir Illahi. Kejadian dipicu dan disebabkan oleh faktor cuaca buruk. 

Dalam setiap peristiwa, yang jadi 'kambing hitam' selalu adalah faktor cuaca. Cuaca buruk. Padahal, yang namanya cuaca adalah hal yang datanya bisa dengan mudah diprediksi dan gampang diakses jauh hari sebelumnya. 

Informasi soal cuaca ini sebenarnya bisa didapat dari para tetua nelayan di sepanjang pesisir yang biasa memprediksi cuaca berdasarkan pengetahuan dan pengalaman kearifan lokal mereka.

Meski, pengetahuan tetua nelayan dalam memprediksi cuaca dan kondisi laut terkesan sepele, kadang tak ilmiah, tapi prediksi itu sering terbukti kebenarannya. Prediksi itu sama-sama dipatuhi oleh para nelayan.

Soal akan terjadi badai, ataupun kondisi gelombang laut, sudah diketahui para nelayan jauh-jauh hari sebelumnya. Sepekan lagi akan terjadi badai, hari ini sudah tahu mereka nelayan informasi tersebut. 

Atau, bisa juga mengakses data informasi perkembangan cuaca melalui lembaga resmi, seperti dari BMKG. Bahkan, BMKG hampir setiap hari merilis prediksi cuaca maupun prediksi kondisi perairan laut.

Data dan informasi prediksi cuaca yang dikeluarkan oleh BMKG tersebut, gampang diakses melalui situs resmi milik lembaga tersebut. Lagian, penyebarluasan informasinya cukup  masif di ruang-ruang informasi publik.

Data informasi perkembangan dan prediksi cuaca maupun kondisi perairan laut yang dirilis BMKG juga disertai pula dengan peringatan dampak kemungkinan bencana yang bisa timbul di daerah-daerah tertentu. Lengkap.

Sebagai daerah tujuan wisata bahari, mestinya data dan informasi perkembangan dan prediksi cuaca dan kondisi perairan dari BMKG ini adalah rambu-rambu utama bagi regulator maupun bagi operator dalam beraktivitas.

Rambu-rambu adalah peringatan. Ingin aman dan selamat patuhi rambu-rambu yang ada. Kalaupun rambu-rambu sudah dipatuhi, namun toh tetap terjadi insiden, mungkin inilah yang disebut dengan takdir. 

Tapi, rambu-rambu ditabrak, aturan tak dipatuhi, peringatan tak diacuhkan, bahkan sengaja dilanggar, ketika terjadi insiden, ini tak bisa ujuk-ujuk disebut takdir. Ini namanya kelalaian, ekstremnya kebodohan.

Bila, semua pihak pemangku kepentingan -regulator maupun operator wisata- komitmen mematuhi rambu-rambu yang ada, tanpa ada istilah kata 'belece' ini itu, In Shaa Allah insiden bisa diminimalisir.

Dalam pelayanan pariwisata, rasa aman adalah hal nomor satu yang akan jadi pertimbangan wisatawan. Itu makanya, dalam Sapta Pesona kata AMAN diletakkan pada poin nomor satu dari tujuh pesona pariwisata.

Enam pesona yang ada, -AMAN, TERTIB, BERSIH, SEJUK, INDAH, RAMAH-, terakhir dibungkus dengan kata KENANGAN. Pertama AMAN, terakhir KENANGAN. Aman adalah hal mendasar lahirnya kenangan, baik atau buruk.

Bagi wisatawan, bila rasa aman sudah didapat di suatu destinasi wisata, (mungkin) soal tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, bisa jadi tak terlalu jadi masalah, kondisi mungkin bisa dimaklumi. Rasa aman akan menorehkan kenangan. 

Tapi, bila rasa aman, yang tak didapat oleh wisatawan dari suatu destinasi, maka setertib, sebersih, sesejuk, seindah, dan seramah apapun pelayanan yang ada, jangan harap akan muncul kenangan di hati wisatawan.

Kalau diibaratkan menilai ibadah dalam ajaran Islam. Rasa aman seperti halnya ibadah shalat. Yang utama. Baik dan sempurna ibadah shalat, maka dinilai baik ibadah yang lain. Bila ada rasa aman, maka rasa yang lain mengikut saja. (*)

Ditulis oleh : Tomi Tanbijo

(Catatan Pagi, Senin 18 Januari 2021)