Pasbana - Dalam hutan hujan tropis yang lebat di Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai, hidup sebuah tradisi yang begitu unik dan tak lekang oleh waktu. Di balik riuh daun dan desir angin, Arat Sabulungan hadir bukan sekadar kepercayaan — ia adalah cara hidup, nadi spiritual masyarakat Mentawai yang mengajarkan keseimbangan antara manusia dan alam semesta.
Lebih dari Sekadar Kepercayaan: Arat Sabulungan, Filosofi yang Menyeluruh
Arat Sabulungan berasal dari kata arat (adat) dan sabulungan (daun), yang bermakna secara harfiah “adat daun”, simbol dari hubungan manusia dengan alam yang tumbuh dan bernafas. Dalam pandangan masyarakat Mentawai, semua hal — mulai dari pepohonan, batu, sungai, sampai angin — memiliki roh (simagere) yang patut dihormati.Kepercayaan ini bukan sekadar ritual formal — Arat Sabulungan membentuk landasan etika sosial dan ekologis. Segala aktivitas, seperti membuka lahan pertanian atau berburu, tak boleh dilakukan sembarangan tanpa panaki (meminta izin kepada roh penjaga) terlebih dahulu. Jika dilanggar, konsekuensinya dipercaya dapat membawa malapetaka, sakit, atau bencana alam.
Sikerei: Jembatan antara Dunia Nyata dan Dunia Gaib
Di jantung Arat Sabulungan berdirilah figur yang sangat khas: Sikerei, dukun atau pemimpin spiritual yang dipercaya mampu berkomunikasi langsung dengan dunia roh. Sikerei tidak hanya menyembuhkan penyakit fisik melalui ritual, tetapi juga menyelaraskan hubungan batin masyarakat dengan roh leluhur dan penjaga alam.Seorang Sikerei biasanya menjalani perjalanan hidup yang berbeda dari orang biasa. Banyak yang merasa “dipanggil” oleh alam setelah melalui pengalaman sakit yang tak kunjung sembuh, sampai mereka menemukan jalan hidup baru sebagai perantara antara manusia dan roh-roh penjaga. Tradisi turun-temurun dan pembelajaran panjang adalah bagian dari proses menjadi Sikerei.
Upacara yang Mengikat Komunitas dan Alam
Upacara-upacara adat — seperti puliaijat, sebuah ritual besar penuh lagu dan tarian — bukan hanya seremoni ritual semata. Ini adalah momen kolektif untuk memperbaharui hubungan antara manusia dengan spirit alam, keluarga, dan leluhur. Ritual ini bisa berlangsung berhari-hari, diiringi pengorbanan hewan seperti babi atau ayam, serta pesta yang melibatkan seluruh kampung.
Selain itu, terdapat pula punen eeruk, upacara untuk menenangkan roh orang yang telah meninggal. Acara-acara seperti ini tidak hanya bersifat spiritual, tapi juga memperkuat solidaritas dan identitas sosial antar anggota masyarakat.
Kebudayaan yang Terancam Punah — tapi Belum Hilang
Perjalanan Arat Sabulungan tak lepas dari tantangan sejarah. Sejak era 1950an, masuknya berbagai agama besar dan program “modernisasi” pemerintah membuat kepercayaan animistik ini banyak terkikis. Pemerintah bahkan sempat memaksa masyarakat memilih agama formal seperti Islam atau Kristen, sementara simbol-simbol tradisional dihancurkan.Akibatnya, jumlah Sikerei makin menurun, dan tradisi asli berjalan lambat untuk terus diwariskan. Di luar pedalaman Siberut, modernisasi dan urbanisasi menarik generasi muda untuk merantau dan hidup jauh dari nilai-nilai budaya nenek moyang.
Namun di balik itu semua, Arat Sabulungan tetap hidup di beberapa komunitas pedalaman. Di wilayah terpencil selatan Siberut, beberapa keluarga masih menjalankan ritual tradisional, belajar lagu-lagu adat, dan menjaga hutan seolah itu adalah bagian dari tubuh mereka sendiri.
Pesan untuk Dunia Modern
Arat Sabulungan bukan hanya cerita dari masa lalu — ia adalah pandangan hidup yang relevan di era modern. Nilai keseimbangan, saling menghormati, dan etika terhadap alam memberikan pelajaran berharga tentang hidup berkelanjutan yang banyak dilupakan dalam arus konsumtif saat ini.Dalam kearifan lokal seperti ini, kita tidak hanya melihat budaya yang berbeda — kita diajak untuk merenungkan kembali hubungan kita dengan dunia di sekitar kita, dan mungkin, belajar dari cara hidup yang harmonis itu. Makin tahu Indonesia.(*)




