Pasbana- Di dapur orang Minang, bawang merah bukan sekadar bumbu. Ia penentu rasa, penanda selera, bahkan kadang pemicu emosi—terutama saat harganya melonjak. Dari sekian banyak bawang merah di pasar, ada satu nama yang belakangan ini selalu disebut dengan nada agak hormat: Bawang Merah Alahan Panjang.
Datangnya dari dataran tinggi Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat—sekitar 1.700 meter di atas permukaan laut—bawang merah ini tumbuh di udara dingin, tanah subur, dan tangan-tangan petani yang sudah turun-temurun paham betul urusan umbi.
Hasilnya? Bawang merah yang kering, tahan lama, dan aromanya langsung “menampar” hidung sejak karung dibuka.
Tak heran jika Alahan Panjang kini tak lagi sekadar daerah. Ia telah menjelma menjadi sentra, bahkan rujukan. Dari Sumatera Barat hingga daerah lain di Sumatra, nama Alahan Panjang kerap dijadikan tolok ukur keberhasilan budidaya bawang merah.
Salah satu rahasianya terletak pada varietas lokal unggulan bernama SS Sakato. Varietas ini bukan muncul tiba-tiba. Ia lahir dari proses panjang pengembangan dan pelestarian, termasuk sentuhan lembaga riset pertanian seperti BSIP Sumbar.
SS Sakato dikenal adaptif di dataran tinggi, produktif, dan—yang paling disukai pasar—hasil panennya kering alami. Artinya, bawang ini tidak cepat busuk dan bisa disimpan lebih lama. Sebuah keunggulan di tengah rantai pasok pangan yang sering kedodoran.
Soal harga, bawang merah Alahan Panjang juga punya “kelas”. Di Pasar Sayur Alahan Panjang, kualitas super bisa menyentuh kisaran Rp30.000 hingga Rp40.000 per kilogram. Angka yang bisa membuat petani tersenyum, tapi juga cukup untuk membuat ibu-ibu pasar berhitung ulang.
Harga memang fluktuatif—dipengaruhi cuaca, hasil panen, hingga stok. Ketika hujan terlalu rajin atau panen tak maksimal, bawang pun bisa langka.
Dalam kondisi seperti itu, sebagian petani memilih “pindah haluan” ke komoditas lain yang lebih aman.
Namun, di balik naik-turunnya harga, ada peran negara yang tak bisa diabaikan. Pemerintah Kabupaten Solok terbilang aktif mendampingi petani bawang merah Alahan Panjang. Mulai dari peningkatan kualitas benih, bantuan sarana produksi, hingga penguatan kelembagaan petani. Upaya ini bukan hanya soal produksi, tetapi juga menjaga keberlanjutan—agar bawang merah tak sekadar ramai sesaat lalu hilang ditelan musim.
Menariknya, Alahan Panjang kini juga menjadi semacam “kelas terbuka” bagi daerah lain. Kabupaten Tanah Datar, misalnya, menjadikan wilayah ini sebagai rujukan belajar: dari teknik budidaya, pengendalian hama, hingga manajemen kelompok tani. Tentu saja, tidak semua bisa ditiru mentah-mentah. Perbedaan ketinggian dan iklim membuat perlakuan tanam harus disesuaikan. Tapi spiritnya sama: belajar dari yang sudah teruji.
Pada akhirnya, bawang merah Alahan Panjang bukan cuma soal umbi dan harga pasar. Ia adalah simbol bahwa pertanian, jika digarap dengan serius—berbasis lokal, didukung riset, dan disangga kebijakan—bisa punya daya saing.
Dari ladang dingin di Solok, bawang kecil ini membuktikan satu hal: urusan dapur bisa menjadi urusan martabat daerah. Dan itu, jelas, bukan bawang merah biasa. Makin tahu Indonesia.(*)




