Notification

×

Iklan

Iklan

Buya Alizar Resmi Pimpin Perguruan Thawalib Padang Panjang 2025–2027, Didorong Jadi Pusat Pemikiran Islam Berkemajuan

10 Januari 2026 | 21:42 WIB Last Updated 2026-01-11T01:07:57Z


Padang Panjang, pasbana— Buya Alizar resmi dilantik sebagai Pimpinan Perguruan Thawalib Padang Panjang periode 2025–2027 dalam sebuah prosesi di Aula Abdul Karim Amrullah, Sabtu (10/1/2026). 

Pelantikan dipimpin Ketua Pengurus Yayasan Thawalib Padang Panjang, Prof. Dr. Abrar, M.Ag, dan disaksikan Wakil Wali Kota Padang Panjang Allex Saputra, Ketua Pembina Yayasan Thawalib Guspardi Gaus, unsur Kementerian Agama, serta tokoh agama dan masyarakat.

Wakil Wali Kota Allex Saputra menegaskan harapan agar Thawalib tidak sekadar dipertahankan sebagai lembaga pendidikan Islam bersejarah, tetapi kembali memainkan peran strategis sebagai pusat lahirnya gagasan keislaman yang responsif terhadap tantangan zaman.

“Thawalib diharapkan mampu melahirkan pemikiran Islam yang moderat, berkemajuan, dan tetap berpijak pada tradisi keilmuan yang kuat,” ujar Allex. Ia juga menekankan pentingnya sinergi pemerintah daerah, ulama, dan lembaga pendidikan dalam menyiapkan generasi unggul menghadapi bonus demografi.

Buya Alizar bukan figur baru di lingkungan Thawalib. Mantan Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Padang Panjang ini merupakan alumnus Perguruan Thawalib yang berdiri sejak 1918, serta memiliki rekam jejak sebagai pendidik dan pengurus yayasan. Penetapannya dilakukan melalui mekanisme yang menekankan pemahaman mendalam atas sejarah dan arah pengembangan Thawalib.

Dalam sambutannya, Buya Alizar menegaskan komitmennya mendorong inovasi, kerja kolektif, dan penguatan jejaring dengan pemerintah daerah serta Kementerian Agama.

“Thawalib memiliki peran historis bagi Padang Panjang dan Indonesia. Kita perlu bergerak bersama agar tetap relevan dan berdaya saing,” katanya.

Ketua Pengurus Yayasan Thawalib, Prof. Abrar, menambahkan bahwa perjalanan lebih dari satu abad Thawalib harus menjadi pijakan pembaruan berkelanjutan. 

Sementara itu, Guspardi Gaus menilai Buya Alizar sebagai figur lengkap yang diharapkan mampu memperkuat karakter lulusan, kurikulum, serta formulasi muadalah agar Thawalib semakin kompetitif di tingkat nasional dan internasional.(*) 

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update