Pasbana - Bayangkan dunia seperti pasar besar. Dulu, alat tukarnya emas—berkilau, langka, dan dipercaya semua orang. Lalu minyak mengambil alih, menggerakkan mesin industri global.
Kini, pasar itu berubah lagi. Yang dicari bukan lagi logam atau “emas hitam”, melainkan sesuatu yang setiap rumah, pabrik, dan server data butuhkan: listrik bersih.
Mari kita coba memahami satu perubahan besar namun sering luput disadari: pergeseran sumber nilai ekonomi dunia, dari emas dan minyak menuju energi hijau.
Bukan teori jauh di awang-awang, tapi tren nyata yang sudah tercermin di pasar energi, kebijakan negara besar, hingga arah investasi global.
Dari Kilau Emas ke Dominasi Minyak
Selama puluhan tahun, emas menjadi jangkar nilai uang lewat gold standard. Stabil, tapi kaku. Ketika ekonomi tumbuh cepat dan perang membutuhkan dana besar, sistem ini runtuh. Tahun 1971, Amerika Serikat resmi meninggalkannya.
Penggantinya adalah petrodolar. Minyak diperdagangkan dengan dolar AS, membuat permintaan dolar terus hidup. Negara produsen minyak menikmati stabilitas, sementara AS mengukuhkan dominasinya. Namun fondasi ini mulai rapuh ketika dunia sadar: minyak terbatas, bergejolak, dan berisiko geopolitik.
Uang Fiat dan Krisis Kepercayaan
Saat ini, hampir semua negara memakai uang fiat—nilainya bertumpu pada kepercayaan pada pemerintah dan bank sentral. Fleksibel, tapi rapuh.
Krisis finansial 2008, pandemi COVID-19, hingga lonjakan inflasi global pasca-2020 menunjukkan satu hal: kepercayaan bisa runtuh cepat. Dunia pun diam-diam mencari jangkar baru yang lebih nyata dan berkelanjutan.
Energi Hijau: Aset Nyata Abad ke-21
Masuklah kita ke era energi bersih. Menurut International Energy Agency (IEA), investasi global energi terbarukan terus mencetak rekor.
Biaya listrik surya turun drastis—data BloombergNEF menunjukkan biaya produksi PLTS global sudah di kisaran USD 0,04 per kWh pada 2024. Artinya, listrik bersih kini lebih murah daripada batu bara di banyak negara.
Analogi sederhananya begini:
Jika minyak dulu adalah “emas hitam”, maka listrik hijau adalah “emas digital”—mengalir, bisa diproduksi massal, dan menjadi fondasi semua aktivitas ekonomi modern, dari pabrik hingga kecerdasan buatan.
Dari Energi ke Nilai Tukar
Negara dengan listrik murah dan bersih otomatis punya industri lebih kompetitif. Selisih biaya energi langsung tercermin pada harga produk ekspor. Inilah mengapa konsep seperti Power Purchase Agreement (PPA) hijau mulai diperlakukan sebagai aset finansial jangka panjang—mirip obligasi, tapi berbasis produksi listrik bersih.
Beberapa ekonom bahkan mulai membahas gagasan energy-backed economy: bukan emas atau dolar, melainkan kapasitas energi bersih yang menjadi tolok ukur kekuatan ekonomi.
Peluang Indonesia
Indonesia berada di posisi unik. Cadangan panas bumi terbesar kedua dunia, potensi surya melimpah, air dan angin yang belum tergarap optimal. Jika dikelola serius—melalui PPA jangka panjang, interkoneksi listrik nasional, serta pasar kredit karbon—Indonesia berpeluang naik kelas dari konsumen menjadi penyimpan nilai energi hijau kawasan.
Dunia bergerak cepat. Seperti internet dan ponsel pintar dulu, perubahan ini tampak “masih lama”, sampai tiba-tiba sudah di depan mata.
Emas memberi kilau. Minyak memberi tenaga. Uang fiat memberi fleksibilitas. Energi hijau memberi masa depan.
Terus ikuti artikel ekonomi dan investasi lainnya, dan tingkatkan literasi finansial Anda—karena memahami arah zaman adalah investasi paling berharga hari ini.
(*)




