Pasbana - Di banyak penghujung hidup, penyesalan manusia nyaris selalu terdengar serupa. Bukan tentang kurangnya harta, melainkan tentang hal-hal yang tak sempat dilakukan. Waktu bersama keluarga yang terlewat. Tubuh yang terlalu lelah untuk menikmati hidup. Dan kesempatan belajar yang tak pernah diambil.
Penelitian yang dilakukan perawat paliatif asal Australia, Bronnie Ware, dalam bukunya The Top Five Regrets of the Dying mencatat hal yang sama. Penyesalan terbesar manusia bukan karena hidup kekurangan, melainkan karena terlalu sibuk mengejar “lebih”—lebih banyak uang, lebih banyak pengakuan—hingga lupa memperhatikan apa yang justru kurang.
Dalam hidup, manusia sejatinya hanya mengelola tiga aset utama: waktu, uang, dan pengetahuan. Ketiganya saling bertukar nilai, saling mengisi, dan saling menentukan kualitas hidup.
Masalah muncul ketika pertukaran itu tidak seimbang. Mereka yang memiliki banyak waktu namun minim uang sering terjebak pada kemalasan. Sebaliknya, mereka yang berlimpah uang tetapi miskin waktu justru terus mengejar uang, seolah tak pernah cukup. Sementara mereka yang kekurangan pengetahuan sering lupa bahwa waktu dan uang bisa ditukar untuk memperkaya pemahaman.
Setiap manusia lahir dengan saldo waktu yang melimpah, tetapi uang dan pengetahuan nyaris nol. Pada fase awal kehidupan, waktu seharusnya ditukar dengan pengetahuan. Sekolah, belajar, mencoba, gagal, dan mengulang. Dari pengetahuan inilah, waktu kemudian bisa dikonversi menjadi uang—melalui kerja atau usaha.
Uang memang penting. Tanpanya, hidup tak berjalan. Namun di sinilah letak jebakan banyak orang: menganggap uang sebagai tujuan akhir, bukan alat. Padahal, para ekonom perilaku seperti Daniel Kahneman telah lama mengingatkan bahwa peningkatan pendapatan hanya berdampak signifikan pada kebahagiaan hingga titik tertentu.
Setelah itu, grafiknya mendatar.
Di usia muda, waktu relatif “murah”. Inilah fase paling tepat untuk bekerja keras, belajar agresif, dan membangun pondasi keuangan.
Di usia muda, waktu relatif “murah”. Inilah fase paling tepat untuk bekerja keras, belajar agresif, dan membangun pondasi keuangan.
Pengetahuan menjadi leverage utama—semakin berkualitas pengetahuan, semakin besar daya ungkitnya. Uang yang dihasilkan sebaiknya tidak dihabiskan seluruhnya, melainkan diinvestasikan secara bijak agar kelak bisa bekerja sendiri.
Memasuki usia matang, logikanya berubah. Waktu semakin mahal, sementara uang semakin murah nilainya. Pada titik ini, konversi waktu menjadi uang seharusnya mulai dikurangi. Biarkan uang mencari uang. Fokus bergeser pada kualitas hidup: kesehatan, keluarga, hobi, kontribusi sosial.
Tak sedikit yang masih terjebak “scalping kehidupan” di usia senja—terus menukar waktu dengan uang, meski secara finansial sudah cukup. Padahal, justru di fase inilah waktu menjadi aset paling berharga.
Memahami cara mengoptimalkan waktu, uang, dan pengetahuan bukan soal menjadi kaya raya, melainkan soal mengurangi penyesalan. Banyak orang baru menyadarinya terlambat.
Dan barangkali, tulisan ini ada agar kita tak perlu berkata suatu hari nanti:
“Seandainya saja ada yang memberitahu saya hal ini sejak dulu.”
(*)




