Notification

×

Iklan

Iklan

Perempuan Minangkabau: Antara Adat, Akhlak, dan Tantangan Zaman Digital

10 Januari 2026 | 20:13 WIB Last Updated 2026-01-10T13:13:04Z
 


Pasbana - Di tengah derasnya arus zaman yang kian bising oleh media sosial dan budaya pamer, perempuan Minangkabau justru berdiri di satu persimpangan penting: menjaga marwah adat sekaligus tetap relevan dengan dunia modern. Anggapan bahwa perempuan Minang “terkungkung” oleh aturan adat sejatinya tak lebih dari prasangka yang lahir dari pemahaman yang setengah-setengah.

Dalam adat Minangkabau, perempuan justru menempati posisi yang sangat istimewa. Ia bukan sekadar pelengkap, melainkan madrasah pertama—tempat nilai, etika, dan akhlak ditanamkan sejak awal kehidupan manusia. 

Perempuan Minang diberi ruang luas untuk berkiprah, berbicara, dan mengekspresikan diri, selama tidak melampaui batas nilai adat dan agama.

Pandangan itu ditegaskan oleh Puti Reno Raudhatul Jannah Thaib, Bundo Kanduang Sumatera Barat sekaligus Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Andalas. Dalam sebuah forum perempuan, ia menekankan bahwa inti dari adat bukanlah larangan, melainkan akhlak.

“Orang yang tidak beradat, tentu tidak berakhlak. Dan akhlak itu akan terbungkus dalam etika serta estetika,” ujarnya lugas.

Mencari Kebenaran, Kebaikan, dan Keindahan


Menurut Puti Reno, ada tiga hal mendasar yang dicari setiap manusia dalam hidupnya. Pertama, kebenaran, yang ditempuh melalui berbagai disiplin ilmu. Kedua, kebaikan, yang melahirkan aturan, hukum, tata krama, dan nilai-nilai etika. Ketiga, keindahan, yang melahirkan seni dan rasa estetika.

Menariknya, dalam kosakata Minangkabau tidak dikenal istilah “etika” dan “estetika” secara harfiah. Namun, nilai-nilai itu hidup dan dipraktikkan melalui konsep budi jo baso, sopan santun, serta langgam kato—cara bertutur yang mencerminkan akhlak seseorang.

Salah satu fondasi etika komunikasi Minangkabau adalah Kato Nan Ampek, sebuah filosofi berbahasa yang mengatur bagaimana seseorang berbicara sesuai konteks dan lawan bicara. Nilai ini bukan sekadar aturan adat, melainkan cermin kedewasaan berpikir dan kematangan emosi.

Selain itu, dikenal pula langgam kato:
Kato mandaki, untuk berbicara kepada orang yang lebih tua atau dihormati.
Kato malereng, untuk mereka yang disegani secara adat.
Kato manurun, kepada yang lebih muda.
Kato mandata, untuk komunikasi setara dan sehari-hari.

“Bahasa adalah wajah dari budi pekerti,” kata Puti Reno.

Sopan Santun yang Kian Memudar


Namun, ia menyayangkan satu hal: nilai-nilai itu kian tergerus di kalangan generasi masa kini. Tidak jarang ditemui anak yang membantah orang tua, murid melawan guru, atau pasangan yang saling melukai dengan kata-kata.

Jika dibiarkan, menurutnya, generasi penerus akan kehilangan akar budaya yang selama ini menjaga harmoni sosial Minangkabau.

Karena itu, Puti Reno mengingatkan empat indikator budi baik yang perlu dijaga setiap individu. Pertama, raso jo pareso—menimbang perasaan dan pikiran sebelum bereaksi. Kedua, kepatutan dan kepantasan, termasuk dalam berpakaian dan bersikap. Ketiga, berpatokan pada aturan. Dan terakhir, memastikan semua itu tidak bertentangan dengan agama, adat, dan hukum negara.

Muara dari semua itu adalah etika—nilai yang di Minangkabau berpadu erat dengan ajaran Islam dalam filosofi ABS-SBK (Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah).

Antara Adat dan Godaan Flexing


Di era digital, tantangan baru pun muncul. Salah satunya adalah budaya flexing—memamerkan harta dan gaya hidup di media sosial. Fenomena ini, kata Puti Reno, kerap melalaikan, terutama ketika waktu habis untuk mengejar pengakuan semu.

“Orang yang pamer kekayaan sekarang disebut ‘sultan’. Tapi jangan sampai sibuk menikmati tontonan hingga lalai ibadah dan membuang waktu,” ujarnya mengingatkan.

Ia kemudian mengajak perempuan kembali meneladani figur-figur perempuan mulia yang disebut dalam Al-Qur'an dan Sunnah: Siti Asiyah yang tegar, Maryam yang menjaga kesucian diri, serta Siti Hajar yang gigih berjuang demi anaknya. Sebaliknya, perempuan penghasut, penebar fitnah, dan perusak rumah tangga adalah sosok yang wajib dihindari.

Menjaga Marwah Perempuan


Menutup pesannya, Puti Reno mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara hubungan horizontal sesama makhluk dan hubungan vertikal dengan Sang Pencipta—hablumminannas dan hablumminallah.

Pesan itu ia tujukan khusus kepada anggota Dharma Wanita Persatuan di lingkungan Kementerian Agama Sumatera Barat, namun sejatinya relevan bagi seluruh perempuan Minangkabau hari ini.

“Perempuan Minang harus mampu menjadi teladan—berakhlak, berbudi pekerti, dan menjaga marwah diri. Itulah kekuatan sejati yang diwariskan adat,” tandasnya.

Di tengah zaman yang terus berubah, pesan itu terasa kian penting: perempuan Minangkabau tidak dituntut untuk mundur dari modernitas, melainkan melangkah maju tanpa kehilangan jati diri.
(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update