Notification

×

Iklan

Iklan

IHSG Tergelincir Usai Isu Downgrade MSCI: Apa Artinya bagi Investor dan Ke Mana Arah Pasar Selanjutnya?

29 Januari 2026 | 17:39 WIB Last Updated 2026-01-29T10:58:21Z


Pasbana - Pasar saham Indonesia kembali diuji. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah di level 8.232,2 atau turun 1,06% pada perdagangan Kamis (29/1).

Bukan sekadar koreksi biasa, pelemahan ini dipicu isu besar yang langsung menyentuh sentimen global: kekhawatiran Indonesia berpotensi diturunkan statusnya dari Emerging Market menjadi Frontier Market oleh MSCI.

Isu ini membuat sebagian investor—khususnya asing—bereaksi cepat. Beberapa sekuritas global menurunkan peringkat Indonesia, memicu aksi jual besar-besaran (sell-off). 

Bahkan, tekanan jual sempat membuat Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan trading halt selama 30 menit di sesi pertama perdagangan.

Namun seperti ombak di laut, setelah gelombang besar datang, air sempat surut. IHSG memang sempat melemah lebih dalam setelah perdagangan dibuka kembali, tetapi aksi bargain hunting—investor yang mulai membeli saham murah—berhasil menahan kejatuhan lebih lanjut.

Kenapa Isu Downgrade MSCI Sangat Sensitif?


Bagi investor awam, MSCI mungkin terdengar teknis. Sederhananya, MSCI adalah lembaga global yang menentukan “kelas” pasar saham suatu negara. Banyak dana investasi besar dunia—seperti dana pensiun dan reksa dana global—mengacu pada indeks MSCI untuk menempatkan dananya.

Jika Indonesia benar-benar turun ke Frontier Market:

- Dana asing pasif berpotensi keluar, karena mandat mereka hanya boleh berinvestasi di Emerging Market.
- Likuiditas pasar bisa berkurang.
- Volatilitas cenderung meningkat.

Inilah sebabnya isu ini langsung berdampak besar, meski masih sebatas kekhawatiran, bukan keputusan final.

Respons OJK dan BEI: Free Float Jadi Sorotan


Di tengah tekanan pasar, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengambil langkah strategis. OJK memutuskan bahwa BEI akan merevisi aturan free float (porsi saham publik) dari minimal 7,5% menjadi 15%.

Aturan ini akan berlaku:
Untuk emiten baru yang akan IPO.
Juga untuk emiten yang sudah tercatat di bursa.

Jika emiten tidak mampu memenuhi ketentuan ini, akan disiapkan exit policy—meski detail mekanismenya masih digodok.

Mengapa free float penting? Ibarat pasar tradisional, semakin banyak barang yang beredar, semakin hidup transaksi. Free float yang lebih besar:
  • Meningkatkan likuiditas saham.
  • Mengurangi dominasi pemegang saham pengendali.
  • Menjadi poin penting dalam penilaian MSCI.

Tak berhenti di situ, OJK juga berencana menyediakan data Ultimate Beneficial Owner (UBO)—yakni data pemilik manfaat terakhir suatu saham—kepada MSCI, dimulai dari konstituen IDX100. Transparansi ini diharapkan memperkuat kepercayaan investor global.

Membaca Arah IHSG dari Sisi Teknikal


Dari sisi teknikal, pergerakan IHSG memberi sinyal yang cukup menarik.
IHSG sempat menembus ke bawah MA200 (moving average 200 hari) dan melemah hingga area 7.481.

Namun, terjadi technical rebound, sehingga IHSG kembali ditutup di atas MA200.
Meski demikian, indikator MACD masih menunjukkan momentum pelemahan yang dominan. Artinya, pasar belum sepenuhnya aman dari tekanan.

Skenario ke depan:
Jika IHSG bertahan di atas 8.000, peluang bergerak di kisaran 8.200–8.400 masih terbuka.

Namun, jika IHSG kembali menembus ke bawah 8.000, tekanan jual berpotensi berlanjut dan volatilitas bisa meningkat.

Apa yang Bisa Dilakukan Investor Saat Ini?


Di tengah kondisi pasar yang penuh sentimen, investor perlu bersikap lebih adaptif dan rasional. 

Beberapa langkah praktis yang bisa dipertimbangkan:

- Perkuat Manajemen Risiko
Gunakan porsi dana bertahap, hindari all-in saat pasar bergejolak.

- Fokus ke Saham Likuid dan Fundamental Kuat
Saham dengan free float besar, laba stabil, dan utang terkendali cenderung lebih tahan banting.

- Manfaatkan Volatilitas untuk Bargain Hunting
Koreksi bukan selalu musuh. Bagi investor jangka panjang, ini bisa jadi peluang.

- Pantau Kebijakan Regulator dan MSCI
Perkembangan dari OJK, BEI, dan MSCI akan sangat menentukan arah pasar ke depan.

Pasar Turun, Literasi Harus Naik


Koreksi IHSG kali ini mengajarkan satu hal penting: pasar saham bukan hanya soal angka, tapi juga kepercayaan dan tata kelola. Langkah OJK dan BEI menunjukkan bahwa regulator tidak tinggal diam dalam menjaga daya saing pasar modal Indonesia.

Bagi investor, momentum seperti ini adalah waktu terbaik untuk belajar, mengevaluasi strategi, dan meningkatkan literasi finansial. Pasar boleh naik turun, tetapi pengetahuan harus terus bertumbuh.

(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update