Notification

×

Iklan

Iklan

Karupuak Kuah: Jejak Rasa Masa Kecil dari Ranah Minang

20 Januari 2026 | 12:18 WIB Last Updated 2026-01-20T05:18:48Z


Pasbana - Di sudut-sudut pasar tradisional, di tepi pantai, hingga di halaman sekolah dasar di Sumatera Barat, ada satu bunyi yang akrab di telinga banyak orang: krek!—suara kerupuk yang diremukkan sebelum disiram kuah gurih. Itulah karupuak kuah, jajanan sederhana yang menyimpan kenangan kolektif lintas generasi masyarakat Minangkabau.

Karupuak kuah—atau yang juga dikenal sebagai karupuak lasa, karupuak siram, karupuak sate, hingga karupuak mie—bukan sekadar camilan. 

Ia adalah potongan kecil dari sejarah kuliner rakyat. Dalam bahasa Minang, kudapan ini bahkan dijuluki karupuak leak atau baleak, yang berarti “tumpah”, merujuk pada kuah yang kerap memercik dan membuat baju sedikit berantakan saat disantap. Tapi justru di situlah kenikmatannya.

Perpaduan Sederhana yang Menggoda


Bahan karupuak kuah tergolong sederhana: kerupuk ubi—kadang diganti kerupuk jengkol atau opak—ditumpuk dengan bihun atau mie kuning, lalu disiram kuah sate yang panas dan kental. Kuah inilah bintang utamanya. 

Racikan santan, cabai, bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, serta aneka rempah khas Minangkabau menghadirkan rasa gurih, pedas, dan hangat yang langsung menyergap lidah.

Di beberapa tempat, kuahnya mengambil inspirasi dari Sate Padang atau gulai khas daerah perbukitan (gulai bukek). Ada pula penjual yang menambahkan potongan daging, telur puyuh, atau taburan bawang goreng untuk memperkaya tekstur dan rasa.

Cara menikmatinya pun khas: kerupuk dipegang langsung dengan tangan, disantap perlahan sebelum melempem oleh kuah. Sensasi renyah yang berpadu dengan kuah panas menjadi daya tarik utama yang sulit ditolak.

Jajanan Rakyat yang Bertahan Zaman


Meski tidak sepopuler rendang atau sate Padang di panggung kuliner nasional, karupuak kuah punya tempat istimewa di hati masyarakat Sumatera Barat. Ia adalah jajanan kaki lima yang setia hadir di ruang-ruang publik: pasar, pantai, hingga kawasan wisata. Murah, mengenyangkan, dan mudah dibuat—itulah sebabnya kudapan ini bertahan dari masa ke masa.




Bagi banyak orang Minang, karupuak kuah adalah nostalgia. Ia mengingatkan pada masa kecil, uang jajan receh, dan kebahagiaan sederhana. Tak heran jika hingga kini, karupuak kuah masih dijajakan dengan cara yang nyaris tak berubah sejak puluhan tahun lalu.

Warisan Rasa yang Layak Dijaga


Di tengah gempuran kuliner modern dan makanan instan, karupuak kuah menjadi penanda bahwa kekayaan kuliner Indonesia tak selalu lahir dari dapur mewah. Justru dari gerobak sederhana, dari tangan-tangan pedagang kecil, lahir cita rasa yang membentuk identitas budaya.

Karupuak kuah bukan sekadar makanan. Ia adalah cerita tentang tradisi, kreativitas rakyat, dan bagaimana rasa bisa menjadi jembatan kenangan. Sebuah warisan kuliner yang layak dirawat—dan dinikmati—selama mungkin. Makin tahu Indonesia.
(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update