Notification

×

Iklan

Iklan

Lubang di Tengah Sawah, Alarm Alam dari Limapuluh Kota

12 Januari 2026 | 12:56 WIB Last Updated 2026-01-12T05:56:09Z




Limapuluh Kota, pasbana - Hari itu, hamparan sawah di Pombatan biasanya tenang. Hanya suara angin dan gemericik air irigasi yang mengalir pelan. Namun hari Minggu awal Januari lalu, ketenangan itu runtuh seketika. Sebuah dentuman terdengar, disusul tanah yang amblas dan membentuk lubang raksasa berisi air. Warga menyebutnya tanah berlubang. Ilmuwan menyebutnya sinkhole.

Fenomena alam ini muncul di kawasan pertanian Pombatan, Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota. Diameternya menganga, kedalamannya diperkirakan mencapai 20 meter. Bagi warga, pemandangan itu bukan sekadar aneh—melainkan mengkhawatirkan.

Air kehijauan yang menggenang di dasar lubang memancing rasa penasaran. Ada yang ingin mendekat, ada pula yang percaya air itu “berbeda”. Namun pemerintah daerah buru-buru memberi peringatan: air tersebut tidak untuk diminum.

Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy, menegaskan bahwa hasil pemeriksaan awal menunjukkan kualitas air belum aman. Nilai keasaman (pH) air berada di bawah 6,5, sementara kandungan bakteri—terutama Escherichia coli—terdeteksi cukup tinggi.
“Air ini ibarat air sungai biasa. Tidak layak diminum langsung,” ujarnya di hadapan warga.

Pernyataan itu diperkuat hasil kajian awal dari Badan Geologi dan pemeriksaan laboratorium oleh Dinas Kesehatan. Meski secara kimia kandungan total zat terlarut (TDS) dan besi (Fe) masih dalam ambang aman, bakteriologisnya menjadi persoalan utama.

Menurut standar kesehatan lingkungan yang dirujuk Kementerian Kesehatan dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), air dengan kandungan E. coli tidak boleh dikonsumsi tanpa pengolahan karena berisiko menimbulkan diare, infeksi saluran pencernaan, hingga penyakit serius lainnya.
Di tengah derasnya kabar dari mulut ke mulut, pemerintah juga meluruskan isu lain yang beredar. Tidak ada khasiat kesehatan, tidak ada unsur mistis. Sinkhole ini, kata Vasko, murni proses alam.

Penjelasan tersebut penting. Di berbagai daerah, fenomena serupa kerap diselimuti mitos. Padahal secara ilmiah, sinkhole terbentuk akibat pelarutan batuan di bawah permukaan tanah—biasanya batu gamping—yang melemahkan struktur tanah hingga akhirnya amblas. Kondisi kemarau panjang yang membuat tanah retak dapat mempercepat proses ini.

Karena itu, pendekatan kehati-hatian menjadi kunci. Pemerintah menetapkan jarak aman minimal 50 meter dari bibir lubang. Pembatasan ini bukan tanpa alasan. Suara dentuman yang masih terdengar dari dalam lubang menjadi tanda bahwa pergerakan tanah belum sepenuhnya berhenti.

Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral bersama Badan Geologi masih melakukan kajian lanjutan. Kepala Dinas ESDM Sumbar, Helmi, menyebutkan bahwa studi lapangan telah dilakukan selama beberapa hari, namun masih diperlukan peralatan tambahan untuk memastikan penyebab amblasan secara menyeluruh.

Hasil kajian tersebut nantinya akan menjadi dasar rekomendasi teknis bagi Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota—apakah kawasan ini bisa dimanfaatkan kembali, atau justru harus ditetapkan sebagai zona rawan permanen.

Sementara itu, garis pengaman tetap terpasang oleh aparat kepolisian dan BPBD Kabupaten Limapuluh Kota. Rasa ingin tahu warga memang besar, tetapi risiko longsor susulan jauh lebih besar.

Lubang di tengah sawah ini menjadi pengingat sunyi: alam punya caranya sendiri untuk berbicara. Tugas manusia bukan menantangnya, melainkan mendengarkan—dan bersiap. Makin tahu Indonesia.
(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update