Notification

×

Iklan

Iklan

Mangkuak Tampuruang, Manis Tradisi yang Dikukus dalam Batok Kelapa

28 Januari 2026 | 20:16 WIB Last Updated 2026-01-28T13:16:30Z


Pasbana - Di tengah gempuran jajanan modern yang tampil penuh warna dan topping kekinian, Sumatra Barat diam-diam menyimpan kudapan tradisional yang tak kalah memesona. Namanya Mangkuak Tampuruang, atau oleh sebagian orang disebut Kue Mangkuak Sayak. Bentuknya sederhana, tapi rasanya—dan ceritanya—dalam.

Kue ini bukan sekadar camilan. Ia adalah potongan kecil dari tradisi Minangkabau yang masih bertahan di pasar-pasar rakyat, di dapur rumah gadang, hingga di sudut-sudut nagari.

Dikukus dalam Batok Kelapa, Bukan Cetakan Biasa


Yang membuat Mangkuak Tampuruang berbeda sejak awal adalah cara memasaknya. Alih-alih menggunakan loyang atau cetakan logam, kue ini dikukus langsung di dalam tempurung kelapa—dalam bahasa Minang disebut tampuruang atau sayak.

Batok kelapa bukan sekadar wadah. Ia memberi aroma khas, warna alami, dan sensasi tradisional yang sulit ditiru oleh alat modern. Proses ini juga mencerminkan filosofi hidup masyarakat Minangkabau: memanfaatkan alam secara bijak, tanpa berlebihan.

Dua Lapisan, Dua Sensasi


Sekilas, Mangkuak Tampuruang tampak sederhana. Namun begitu disendok, keistimewaannya langsung terasa.

Lapisan bawahnya berwarna cokelat pekat—hasil perpaduan tepung beras, gula merah, tape singkong, dan sedikit garam. Teksturnya padat-kenyal, legit, dengan manis yang tidak berlebihan.




Di atasnya, terdapat lapisan putih dari santan kelapa yang dikukus belakangan. Lembut, gurih, dan sedikit lumer, lapisan ini menjadi penyeimbang rasa manis di bagian bawah. Dua lapisan, dua karakter, yang berpadu harmonis dalam satu mangkuk batok kelapa.

Proses Sederhana, Tapi Sarat Makna


Secara teknis, pembuatan kue ini terbilang sederhana. Adonan gula merah dikukus lebih dulu selama sekitar 10–15 menit hingga setengah matang. Setelah itu, adonan santan dituangkan di atasnya dan dikukus kembali sampai matang sempurna.

Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan pengetahuan kuliner turun-temurun. Takaran bahan, waktu pengukusan, hingga pemilihan kelapa tua untuk tempurung—semuanya diwariskan dari generasi ke generasi, tanpa buku resep, hanya lewat praktik dan ingatan.

Jejak Kuliner Minangkabau yang Bertahan


Mangkuak Tampuruang lazim dijumpai di pasar tradisional Sumatra Barat, terutama pada pagi hari. Ia sering hadir sebagai teman minum kopi atau teh hangat, dinikmati perlahan sambil berbincang.

Menurut catatan berbagai kajian kuliner Nusantara dan dokumentasi budaya oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, makanan tradisional seperti Mangkuak Tampuruang bukan hanya soal rasa, tetapi juga identitas budaya

Ia mencerminkan hubungan masyarakat Minangkabau dengan alam, kebersamaan, dan kesederhanaan hidup.

Sayangnya, seperti banyak jajanan tradisional lain, keberadaan Mangkuak Tampuruang kini kian terdesak. Generasi muda lebih akrab dengan dessert modern, sementara pembuat kue tradisional semakin berkurang.

Lebih dari Sekadar Camilan


Mangkuak Tampuruang mengajarkan satu hal penting: bahwa makanan bisa menjadi arsip hidup kebudayaan. Setiap sendoknya membawa cerita tentang dapur kampung, pasar rakyat, dan kearifan lokal yang tak lekang oleh waktu.

Di saat dunia bergerak cepat, mungkin sesekali kita perlu berhenti—dan menikmati manisnya tradisi yang dikukus perlahan dalam batok kelapa. Makin tahu Indonesia.
(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update