Notification

×

Iklan

Iklan

Membaca Solvency—Cara Sederhana Menilai Perusahaan Sehat atau Rentan Utang

01 Januari 2026 | 08:22 WIB Last Updated 2026-01-01T01:22:47Z


Pasbana - Bayangkan Anda hendak meminjamkan uang ke seorang teman. Pertanyaan paling mendasar tentu: apakah dia sanggup membayar kembali dalam waktu dekat? Di pasar saham, pertanyaan itu dijawab lewat rasio solvency—alat sederhana namun krusial untuk menilai kesehatan keuangan perusahaan.

Pada seri fundamental kali ini, kita membahas Solvency, khususnya tiga rasio yang kerap dipakai investor ritel di fitur Keystats milik Stockbit: Current Ratio, Quick Ratio, dan Debt to Equity Ratio (DER)

Jangan khawatir, kita bahas dengan bahasa awam, analogi sederhana, dan contoh nyata agar mudah dipahami.

Mengapa Solvency Penting bagi Investor?


Solvency membantu investor menjawab dua hal penting:

Likuiditas jangka pendek: Mampukah perusahaan membayar kewajiban yang jatuh tempo dalam waktu dekat?

Risiko utang (leverage): Seberapa besar ketergantungan perusahaan pada utang dibanding modal sendiri?

Perusahaan yang laba terlihat besar belum tentu aman jika kasnya seret atau utangnya menumpuk. Di sinilah rasio solvency berperan sebagai “cek kesehatan” awal.

1. Current Ratio: Seberapa Aman Uang Tunai Perusahaan?


Arti sederhana
Current Ratio mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka pendek menggunakan seluruh aset lancar yang dimiliki saat ini.

Rumus umum
Current Ratio = Aset Lancar / Kewajiban Lancar

Aset lancar mencakup kas, piutang, hingga persediaan. Kewajiban lancar meliputi utang dagang, utang jangka pendek, dan beban lain yang segera jatuh tempo.

Analogi
Ibarat dompet dan tagihan bulanan. Jika isi dompet dan tabungan jangka pendek lebih besar dari total tagihan, Anda relatif aman.

Patokan umum (rule of thumb)
< 1,0 → Waspada, aset lancar tidak cukup menutup kewajiban.
1,0 – 1,5 → Cukup aman.
1,5 – 2,0 → Sehat untuk banyak sektor.
> 2,0 → Sangat likuid, tapi bisa jadi dana menganggur (kurang efisien).

2. Quick Ratio: Ujian Likuiditas Tanpa Persediaan


Arti sederhana
Quick Ratio adalah versi lebih ketat dari Current Ratio karena mengeluarkan persediaan dari perhitungan. Alasannya, persediaan belum tentu cepat diuangkan.

Rumus umum
Quick Ratio = (Aset Lancar – Persediaan) / Kewajiban Lancar
atau disederhanakan menjadi
(Kas + Surat Berharga + Piutang) / Kewajiban Lancar

Analogi
Jika terjadi keadaan darurat dan Anda harus membayar tagihan hari ini, apakah uang tunai dan piutang yang cepat cair sudah cukup—tanpa harus menjual barang?

Patokan umum
< 1,0 → Likuiditas ketat, berisiko jika harus bayar cepat.
1,0 – 1,5 → Umumnya aman.
> 1,5 → Likuiditas sangat kuat, tapi perlu dicek efisiensinya.

Catatan: Quick Ratio biasanya lebih rendah dari Current Ratio karena persediaan tidak dihitung.

3. Debt to Equity Ratio (DER): Seberapa Besar Beban Utang?


Arti sederhana
DER mengukur porsi pendanaan perusahaan: utang vs modal sendiri (ekuitas).

Rumus umum
DER = Total Liabilitas / Total Ekuitas
Semakin tinggi DER, semakin besar ketergantungan perusahaan pada utang.

Analogi
Membeli rumah dengan KPR. Cicilan wajar masih aman, tapi jika hampir seluruh gaji habis untuk cicilan, risiko meningkat saat suku bunga naik.

Patokan umum
< 0,5 → Sangat konservatif, risiko rendah.
0,5 – 1,0 → Sehat untuk banyak sektor.
1,0 – 2,0 → Masih wajar di sektor padat modal (perbankan, infrastruktur), namun risikonya naik.
> 2,0 → Leverage tinggi, sensitif terhadap bunga dan penurunan laba.

Cara Praktis Menggunakan Rasio Solvency


Agar tidak salah tafsir, perhatikan tiga tips ini:

Bandingkan dengan sektor sejenis – Rasio ideal berbeda antara ritel, manufaktur, dan perbankan.

Lihat tren, bukan satu angka – Rasio membaik dari kuartal ke kuartal sering lebih penting daripada angka sesaat.

Gabungkan dengan rasio lain – Solvency sebaiknya dibaca bersama profitabilitas dan arus kas.

Rasio solvency membantu investor menghindari saham “terlihat murah tapi rapuh”. Dengan memahami Current Ratio, Quick Ratio, dan DER, investor ritel bisa menilai apakah sebuah perusahaan:
Cukup likuid untuk bertahan jangka pendek, dan

Tidak terlalu berisiko karena beban utang berlebih.

Ini bukan alat sakti, tapi fondasi penting dalam analisis fundamental.
(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update