Notification

×

Iklan

Iklan

Merawat Jati Diri Anak Minang: Dari Isra' Mi'raj Menuju Indonesia Emas

14 Januari 2026 | 07:36 WIB Last Updated 2026-01-14T00:39:02Z


Pasbana - Di tengah arus perubahan zaman yang kian cepat, masyarakat Minangkabau sejatinya memiliki warisan nilai yang kokoh sebagai penyangga karakter. 

Nilai itu terangkum dalam empat kepribadian unggul orang Minang: punyo raso jo pareso (punya rasa dan nalar), punyo sopan jo santun, punyo raso malu, serta mangarati ereang jo gendeang—mampu membaca situasi dan memahami isyarat sosial.

Namun, pertanyaan pentingnya: apakah nilai-nilai itu masih hidup hari ini?
Momentum peringatan Israk Mikraj Nabi Muhammad SAW di bulan Rajab 1448 H menjadi cermin untuk bercermin.

Peristiwa agung yang menghadirkan perintah shalat ini bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan panggilan untuk meningkatkan kualitas diri dan kaum melalui kualitas shalat yang dijalankan dengan sadar dan bermakna.

Dalam falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK), indikator “anak Minang yang taat” tidak hanya diukur dari pengetahuan, tetapi dari praktik hidup. 

Di antaranya: paham adat dan syariat, tahu nan ampek dan memahami nan ciek, serta menjadikan shalat sebagai pembentuk pribadi yang berani, beradab, dan bermartabat—selama diiringi iman dan adat yang baik. Salah satu penjaganya adalah menjauhi sumbang duo baleh, dua belas perilaku yang bertentangan dengan adat dan moral.

Di sinilah shalat menemukan maknanya yang lebih luas. Para ahli pendidikan karakter menyebut shalat sebagai fondasi pembentukan kepribadian remaja. Shalat tepat waktu melatih disiplin dan tanggung jawab, dua kualitas dasar manusia unggul. Gerakan shalat yang tertib membiasakan keteraturan dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih dari itu, Al-Qur’an menegaskan, “Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar” (QS. Al-Ankabut: 45). Shalat yang dipahami dan dihayati menumbuhkan kesabaran, kejujuran, rasa syukur, serta akhlak mulia. Shalat berjamaah mengajarkan adab, kebersamaan, dan kesetaraan sosial—nilai yang sangat relevan di tengah menguatnya individualisme.

Dari sisi kesehatan mental, berbagai kajian psikologi modern juga menunjukkan bahwa aktivitas spiritual seperti shalat dan dzikir membantu menurunkan stres dan kecemasan. Hal ini sejalan dengan firman Allah, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’d: 28).

Agar shalat benar-benar membentuk karakter, kuncinya ada pada kekhusyukan, konsistensi, dan lingkungan yang mendukung. Peran orang tua, tokoh adat, dan lingkungan sosial sangat menentukan dalam membimbing generasi muda.

Jika shalat kembali dihidupkan sebagai sumber nilai, maka cita-cita menuju Indonesia Emas bukanlah angan-angan. Kita tidak melahirkan generasi cemas, melainkan generasi beriman, beradat, dan berkarakter—sebagaimana jati diri anak Minang yang sesungguhnya.(*) 

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update