Notification

×

Iklan

Iklan

Saham Naik Tanpa Berita: Jangan Jadi “Kayu Bakar” di Perapian Gorengan

09 Januari 2026 | 20:36 WIB Last Updated 2026-01-10T04:07:47Z


Pasbana - Bayangkan sebuah pasar malam. Lampu terang, suara riuh, dan ada satu lapak yang selalu ramai. Semua orang berbisik, “Ini laris banget, cepat beli!”
Masalahnya, tak ada yang benar-benar tahu apa yang dijual—selain keyakinan bahwa harganya akan naik.

Itulah potret saham gorengan di pasar modal hari ini.

Artikel ini penting dibaca, terutama bagi investor pemula, agar tidak terjebak euforia sesaat. Kita akan membahas ciri saham yang patut diwaspadai, peran sinyal resmi bursa, dan langkah praktis agar tidak menjadi korban “pump and dump”—dengan bahasa sederhana, tanpa jargon berbelit.

No News, No Action, Just Pump!


Dalam beberapa bulan terakhir, fenomena saham naik puluhan persen tanpa sentimen bisnis yang jelas kembali marak. Isunya beredar cepat lewat grup-grup diskusi, terutama di Telegram. 

Narasi dikemas meyakinkan—kadang dibumbui nama tokoh atau influencer—namun minim data.

Padahal, di pasar modal yang sehat, harga saham bergerak karena informasi: laporan keuangan, ekspansi usaha, kontrak baru, atau perbaikan kinerja. Jika tak ada berita, tak ada data, tetapi harga meroket, itu lampu merah besar.

Analogi sederhananya begini: kompor menyala butuh bahan bakar. Kalau api membesar tanpa kayu, waspadalah—bisa jadi itu kembang api, indah sesaat lalu padam, meninggalkan abu.

UMA: Peringatan, Bukan Undangan


Bursa sebenarnya sudah menyiapkan “alarm”. Salah satunya adalah pengumuman Unusual Market Activity (UMA) dari Bursa Efek Indonesia (IDX).

UMA bukan cap “saham pasti cuan”. Justru sebaliknya: peringatan bahwa ada pergerakan harga/volume yang tidak wajar.

Sayangnya, masih banyak investor yang salah kaprah. UMA malah dianggap sinyal masuk. Ini berbahaya. Ketika bursa sudah angkat tangan memberi peringatan, risikonya biasanya sudah di luar nalar.

Kenali Pola “Exit Liquidity”


Satu konsep penting yang wajib dipahami investor pemula adalah exit liquidity.
Artinya sederhana: ada pihak yang butuh pembeli di harga tinggi agar mereka bisa keluar.

Sering kali, mereka yang paling lantang mengajak beli sudah punya saham di harga bawah. Ketika minat ritel memuncak, di situlah stok dilepas. Investor yang datang belakangan? Menjadi “donatur” tanpa sadar.

Tips Praktis Biar Nggak Jadi Korban Gorengan Kelas Kakap


1) Pantau Kolom UMA di IDX
Jika saham masuk radar UMA, perlambat langkah. Jangan FOMO. Ingat: itu peringatan keras, bukan rekomendasi.

2) DYOR (Do Your Own Research)
Lakukan riset mandiri. Siapa pun sumbernya—bahkan jika mengaku dekat dengan tokoh besar—tetap cek data.
Tanya diri sendiri: bisnisnya apa, kinerjanya bagaimana, prospeknya masuk akal atau tidak?

3) Cek Berita Resmi
Ada kabar korporasi? Laporan keuangan membaik? Kontrak baru?
Kalau tak ada apa-apa tapi harga naik gila-gilaan, lebih aman skip—kecuali Anda siap dengan risiko ekstrem.

4) Pahami Posisi Anda
Jika Anda membeli karena “katanya”, besar kemungkinan Anda membantu pihak lain menjual. Di pasar, yang lebih dulu tahu biasanya lebih dulu keluar.

Literasi Finansial Bukan Sekadar Narasi


Sulit memberi respek pada klaim “literasi” jika ujungnya mencari exit liquidity untuk kepentingan pribadi. Pembersihan gorengan akan efektif jika dimulai dari diri kita: kritis pada narasi, disiplin pada data.

Pesan akhirnya sederhana namun tegas:
Di pasar modal, satu-satunya orang yang benar-benar peduli pada uang Anda adalah Anda sendiri. Bukan “suhu”, bukan admin grup, bukan penjual cerita.

Seperti pepatah di bursa: tidak ada makan siang gratis. Jika Anda tidak tahu siapa yang sedang “dimasak” di atas meja, bisa jadi Anda menunya.
(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update