Solok Selatan, pasbana - Dua puluh dua tahun bukan usia yang tua. Tapi juga tak lagi bisa disebut hijau. Di usia inilah, Kabupaten Solok Selatan tampak mulai tahu ke mana ia hendak melangkah. Bukan sekadar tumbuh, tapi memilih arah—dan arah itu bernama energi terbarukan.
Diperingati setiap 7 Januari, ulang tahun ke-22 Solok Selatan datang dengan optimisme yang tak dibuat-buat. Kabupaten yang dulu kerap luput dari radar pembangunan Sumatera Barat ini kini pelan-pelan menempatkan diri sejajar dengan daerah lain. Prestasi birokrasi diraih, manajemen ASN dibenahi, dan tata kelola pemerintahan terus dirapikan. Tidak glamor, tapi konsisten.
Namun yang paling menarik bukan sekadar deretan penghargaan. Solok Selatan sedang bermain di panggung yang lebih besar: panggung energi dunia.
Di Muara Laboh, uap panas bumi tidak lagi sekadar gejala alam. Ia telah diolah menjadi listrik, menjadi pendapatan daerah, dan—yang paling penting—menjadi simbol masa depan. Melalui pengelolaan panas bumi oleh PT Supreme Energy Muara Laboh, Solok Selatan menegaskan bahwa kekayaan alam tak harus habis digali, tapi bisa dirawat sambil dimanfaatkan.
Sejak produksi tahap pertama dimulai pada akhir 2019, kehadiran perusahaan ini memberi dampak nyata. Lima tahun berjalan, kontribusinya terasa pada peningkatan pendapatan daerah dan denyut ekonomi lokal. Dari proyek energi, efeknya menjalar ke lapangan kerja, perputaran usaha, hingga ke warung kopi yang kini lebih sering ramai.
Keseriusan itu kembali ditegaskan pada 9 Januari 2026. Bertempat di Cikini, Jakarta, Pemerintah Kabupaten Solok Selatan ikut duduk di meja evaluasi dan perencanaan RKAB 2025 serta pembahasan RKAB 2026 di Direktorat Jenderal EBTKE. Ini bukan sekadar rapat anggaran, tapi penanda bahwa Solok Selatan sedang ikut menentukan arah transisi energi nasional.
Sekretaris Daerah Solok Selatan, Dr. H. Syamsurizaldi, hadir langsung. Dalam paparannya, ia menyampaikan apresiasi atas kontribusi PT SEML—bukan hanya sebagai investor, tetapi sebagai mitra pembangunan. Pesannya sederhana namun tegas: lanjutkan pengembangan, tapi jangan tinggalkan lingkungan, budaya lokal, dan masyarakat.
Tahap kedua eksploitasi memang tengah berjalan, dan harapan besar disematkan pada ekspansi hingga tahap ketiga. Namun, pemerintah daerah mengingatkan satu hal penting: energi hijau tidak boleh melahirkan luka sosial. UMKM lokal harus ikut tumbuh, kearifan lokal harus dihormati, dan alam harus tetap punya waktu bernapas.
Di usia ke-22 ini, Solok Selatan seperti remaja yang mulai yakin dengan mimpinya. Ia mungkin belum sepenuhnya mapan, tapi sudah tahu apa yang ingin diperjuangkan.
Dari perbukitan panas bumi di Muara Laboh, Solok Selatan mengirim pesan ke dunia: daerah kecil pun bisa punya ambisi besar—asal tahu cara menyalakan masa depan tanpa membakar hari esok.(*)




