Sijunjung, pasbana - Di balik perbukitan hijau Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, ada satu tempat yang diam-diam menyimpan cerita panjang tentang bumi—jauh sebelum manusia mengenal kampung, jalan, apalagi pariwisata.
Namanya Bukik Ponggang, sebuah destinasi wisata alam di Desa Kampung Baru, Kecamatan Kupitan, yang menawarkan perpaduan unik antara warisan geologi purba dan panorama alam yang menenangkan.
Bukik Ponggang bukan sekadar bukit biasa. Ia merupakan bagian dari Geopark Ranah Minang Silokek, kawasan yang dikenal para peneliti karena bentang alam karstnya yang terbentuk sejak jutaan tahun lalu. Di sinilah wisata dan ilmu pengetahuan berjalan beriringan—tanpa terasa menggurui, tanpa harus membaca buku tebal.
Salah satu daya tarik utama Bukik Ponggang adalah formasi batu kapur raksasa yang tersusun alami, membentuk lanskap unik sekaligus menjadi “buku terbuka” bagi siapa saja yang ingin belajar tentang sejarah bumi.
Menurut para ahli geologi, batuan karst seperti yang terdapat di kawasan Silokek terbentuk melalui proses geologi panjang akibat pengendapan laut purba dan pelapukan selama jutaan tahun.
Kawasan ini juga kerap dijadikan lokasi edukasi geologi, baik untuk pelajar, mahasiswa, hingga komunitas pecinta alam. Tak heran, Bukik Ponggang masuk dalam peta pengembangan geosite yang dikelola pemerintah daerah bersama akademisi dan pegiat geopark.
Hamparan Krokot yang Mekar Setiap Hari
Namun Bukik Ponggang tidak hanya soal batu dan sejarah purba. Di sela-sela bebatuan karst, tumbuh bunga krokot berwarna-warni yang mekar hampir setiap hari. Bunga ini menutupi lereng bukit seperti karpet alami, menghadirkan kontras cantik antara warna hijau, merah, kuning, dan ungu dengan kelabu batu kapur.
Pemandangan inilah yang membuat Bukik Ponggang berbeda dari perbukitan lain di Sumatera Barat. Banyak pengunjung datang bukan hanya untuk menikmati alam, tetapi juga berburu foto—baik untuk koleksi pribadi maupun media sosial.
Dari puncak bukit, mata pengunjung dimanjakan oleh panorama alam Sijunjung yang terbuka luas. Sawah, sungai, dan perbukitan tampak membentang sejauh mata memandang. Udara sejuk khas dataran tinggi terasa paling nikmat pada pagi dan sore hari, saat matahari tidak terlalu terik.
Waktu-waktu ini pula yang sering dipilih wisatawan untuk sekadar duduk santai, menyeruput kopi, atau menikmati senja yang perlahan turun di balik bukit.
Bukik Ponggang dirancang sebagai destinasi yang ramah untuk berbagai segmen wisatawan. Bagi pencinta aktivitas luar ruang, tersedia jalur hiking, bersepeda, hingga ATV untuk menjelajah medan perbukitan.
Sementara itu, bagi pengunjung yang ingin pengalaman lebih mendalam, tersedia wisata edukasi seperti susur gua dan pengenalan kearifan lokal masyarakat Desa Kampung Baru. Kehidupan warga yang masih erat dengan alam menjadi bagian penting dari pengalaman berwisata di kawasan ini.
Untuk keluarga, pengelola juga menyediakan area piknik dan ruang bermain anak. Meski demikian, wisatawan disarankan datang lebih pagi, terutama pada akhir pekan, untuk menghindari kepadatan area parkir.
Pengembangan Bukik Ponggang sejalan dengan konsep geopark yang mengedepankan konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat lokal. Model pariwisata seperti ini dinilai berkelanjutan karena tidak hanya mengejar kunjungan, tetapi juga menjaga warisan alam dan budaya.
Sejumlah pakar pariwisata menyebutkan bahwa geopark seperti Silokek memiliki peluang besar menjadi destinasi unggulan Sumatera Barat, asalkan dikelola secara konsisten dan berwawasan lingkungan.
(*)





