Pasbana - Pasar emas global baru saja mengalami guncangan keras. Dalam dua hari perdagangan, harga emas spot longsor hampir 18 persen—dari sekitar US$5.375 per ons pada pembukaan Jumat (30/1) ke titik terendah US$4.403 per ons pada Senin (2/2) pagi.
Sebuah koreksi tajam yang membuat banyak investor terperangah. Meski begitu, emas belum sepenuhnya menyerah. Harga kemudian bangkit dan bergerak di kisaran US$4.700–4.800 per ons.
Apa yang terjadi? Bloomberg mencatat, kejatuhan ini dipicu oleh aksi ambil untung besar-besaran dari ETF berbasis bullion dan instrumen derivatif ber–leverage.
Momentum itu diperkuat oleh penguatan dolar AS, menyusul penunjukan Kevin Warsh—mantan gubernur The Fed—sebagai calon kepala bank sentral Amerika Serikat berikutnya. Warsh dikenal vokal mengkritik neraca The Fed yang membengkak.
Pasar pun mulai membaca arah baru: potensi pengetatan neraca (quantitative tightening/QT) dan berkurangnya peran The Fed di pasar keuangan demi memulihkan kredibilitas kebijakan moneter.
Padahal, reli emas sebelumnya terbilang spektakuler. Harga sempat mencetak rekor sepanjang masa di US$5.595 per ons—lonjakan yang bahkan mengejutkan trader kawakan.
Salah satu pendorongnya adalah gelombang “hot money” dari China. Dari investor ritel hingga dana besar, spekulan Negeri Tirai Bambu ikut memacu harga, membuat pergerakan emas melaju jauh melampaui irama fundamental permintaan dan pasokan.
Ke depan, kunci pasar ada di China. Seberapa agresif investor di sana membeli emas saat harga terkoreksi akan sangat menentukan arah selanjutnya. Menjelang Tahun Baru Imlek, pasar bullion terbesar di Shenzhen dilaporkan dipadati pembeli perhiasan dan emas batangan. Namun, perlu dicatat: pasar domestik China akan tutup lebih dari sepekan mulai 16 Februari 2026 untuk libur Imlek.
Analis Jinrui Futures, Zijie Wu, memperkirakan volatilitas tinggi dan libur panjang akan mendorong trader mengurangi posisi dan menurunkan risiko.
Sebaliknya, analis Deutsche Bank, Michael Hsueh, tetap optimistis. Menurutnya, fundamental permintaan emas masih solid dan prospek jangka panjang tetap cerah. Target US$6.000 per ons pun belum dicoret dari peta.
Singkatnya, emas sedang diuji—bukan hanya oleh dolar dan kebijakan moneter, tapi juga oleh psikologi pasar global.(*)




