Notification

×

Iklan

Iklan

Bursa yang Berkabut: Ketika Pasar Saham Lebih Mirip Dapur Gorengan

04 Februari 2026 | 07:50 WIB Last Updated 2026-02-04T00:50:52Z


Pasbana - Pasar modal idealnya seperti akuarium: bening, jernih, dan semua ikan terlihat jelas berenang ke mana. Tapi penilaian terbaru Morgan Stanley Capital International (MSCI) justru menampilkan wajah lain Bursa Efek Indonesia (BEI)—lebih mirip dapur gorengan, penuh asap, panas, dan sulit membedakan mana minyak baru, mana minyak jelantah.

Sorotan MSCI terhadap minimnya transparansi data kepemilikan saham emiten seolah membenarkan kecurigaan lama para investor: harga saham di Tanah Air terlalu mudah “diolah”. Bukan oleh kinerja bisnis, melainkan oleh tangan-tangan yang lihai memainkan api.

Modusnya klasik dan sudah lama kita kenal—menggoreng saham. Harga dinaikkan tak wajar, lalu ditinggal dingin setelah keuntungan dikantongi.
Ketika pasar lebih sibuk memanaskan wajan ketimbang membangun fondasi, wajar jika kepercayaan ikut menguap.

Efek Domino yang Tak Bisa Dianggap Angin Lalu


Catatan MSCI itu bukan sekadar laporan teknis di atas meja rapat investor global. Dampaknya nyata dan berlapis. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tersungkur. Kepercayaan pasar terguncang. 

Bahkan kursi-kursi empuk di puncak industri keuangan ikut bergetar, ditandai dengan pengunduran diri figur-figur penting seperti Ketua Komisioner OJK Mahendra Siregar dan Direktur Utama BEI Imam Rachman.

Ini bukan soal siapa mundur dan siapa bertahan. Ini soal alarm keras bahwa ada yang salah di dapur besar bernama pasar modal nasional.

Lebih jauh, problem BEI bukan hanya soal transparansi kepemilikan saham. Banyak emiten masih abai pada hak-hak pekerja, tanggung jawab sosial, hingga tata kelola berkelanjutan. Produk turunannya pun—seperti obligasi korporasi—kurang menggugah minat publik. Pasar modal seolah ramai di permukaan, tapi sepi kepercayaan di kedalaman.

Ancaman Turun Kelas: Dari Emerging ke Frontier


Jika pembenahan terus ditunda, risiko terburuk bukan mustahil terjadi: Indonesia tergelincir dari status emerging market menjadi frontier market. Ini bukan sekadar soal label. Ini soal persepsi global, aliran dana, dan masa depan investasi.

Investor internasional sangat sensitif pada kredibilitas. Sekali ragu, modal akan mencari pelabuhan lain. Dan saat itu terjadi, yang merugi bukan hanya bursa, tapi perekonomian nasional secara keseluruhan.

Padahal, pasar modal memegang peran strategis sebagai etalase ekonomi Indonesia. Dengan sistem yang transparan dan perdagangan yang jujur, investor global tak hanya membeli saham blue chip, tetapi juga menanamkan modal riil—membangun pabrik, membuka lapangan kerja, dan menggerakkan ekonomi rakyat.

Momentum Membersihkan Kaca Etalase



Pasar modal seharusnya menjadi rumah investasi yang aman bagi masyarakat, bukan arena spekulasi segelintir pemain.

Karena itu, momen ini mestinya dimanfaatkan pemerintah dan otoritas pasar sebagai titik balik—bukan sekadar menambal retakan, tapi membenahi struktur dari fondasi: transparansi, pengawasan, penegakan hukum, dan keberpihakan pada investasi yang beretika.

Jika tidak, bursa akan terus ramai seperti pasar malam—hingar-bingar, penuh lampu, tapi rawan tipu-tipu.

Dan kita tahu, kepercayaan investor tidak dibangun dari asap gorengan, melainkan dari kaca yang bersih dan aturan yang tegas.
(*) 

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update