Notification

×

Iklan

Iklan

Maanta Pabukoan: Saat Cinta dan Hormat Dihidangkan dalam Rantang Ramadan

17 Februari 2026 | 18:16 WIB Last Updated 2026-02-17T11:16:01Z


Pasbana - Menjelang magrib di bulan Ramadan, dapur-dapur di ranah Minangkabau biasanya lebih sibuk dari hari biasa. Aroma gulai ayam yang mendidih, rendang yang perlahan menghitam sempurna, hingga manisnya kolak pisang bercampur santan memenuhi udara.

Namun, semua itu bukan sekadar persiapan berbuka. Ada satu momen istimewa yang dinanti: maanta pabukoan.

Tradisi ini bukan hanya soal mengantar makanan berbuka puasa. Ia adalah bahasa cinta, penghormatan, dan jembatan silaturahmi yang telah mengakar dalam budaya Minang sejak lama.

Lebih dari Sekadar Makanan


Secara harfiah, maanta pabukoan berarti mengantarkan makanan berbuka. Biasanya dilakukan oleh menantu perempuan kepada orang tua suaminya—yang dalam bahasa Minang disebut mintuo.

Dalam sistem kekerabatan Minangkabau yang menganut garis keturunan ibu (matrilineal), relasi antara menantu dan keluarga pasangan memiliki makna sosial yang kuat. Menurut sejumlah kajian antropologi tentang masyarakat Minang, tradisi ini menjadi salah satu cara mempererat hubungan antar-suku dan antar-keluarga setelah pernikahan.

Ramadan menjadi momentum yang tepat. Bulan yang sarat makna spiritual ini juga menjadi ruang sosial untuk memperkuat nilai kebersamaan dan saling menghormati.
“Tradisi ini bukan formalitas. Ia adalah simbol penerimaan dan kasih sayang,” ujar sejumlah budayawan Minang dalam berbagai kajian budaya lokal Sumatera Barat.

Apa Saja yang Dibawa?


Makanan yang diantar bukanlah sembarang hidangan. Biasanya disiapkan sendiri oleh menantu, lalu disusun rapi dalam rantang bertingkat atau talam logam.

Menu yang umum dibawa antara lain:
  • Gulai ayam atau gulai tunjang
  • Ikan balado
  • Rendang
  • Lapek bugih
  • Onde-onde
  • Kolak pisang
  • Sarikayo

Hidangan khas Minang memang terkenal kaya rempah dan bercita rasa kuat. Bahkan, rendang pernah dinobatkan sebagai salah satu makanan terenak di dunia oleh CNN International dalam daftar World’s 50 Best Foods. Popularitas ini menunjukkan bahwa tradisi seperti maanta pabukoan juga menjadi medium pelestarian kuliner Minangkabau.

Bagi pasangan yang baru menikah, terutama di wilayah seperti Pariaman, tradisi ini bahkan dianggap sebagai kewajiban moral. Tidak melaksanakannya bisa dianggap kurang elok secara adat.

Diplomasi Dapur dan Ikatan Emosional


Maanta pabukoan sejatinya adalah “diplomasi dapur”. Di dalamnya ada pesan: saya hadir sebagai bagian dari keluarga ini.

Dalam konteks sosial, tradisi ini memperkuat relasi antara dua keluarga besar. Dalam konteks budaya, ia menjaga kesinambungan nilai adat. Dalam konteks spiritual, ia selaras dengan ajaran Ramadan tentang berbagi dan mempererat silaturahmi—sebuah nilai yang juga ditekankan dalam ajaran Islam.

Tak heran jika tradisi ini tidak hanya dilakukan kepada mertua, tetapi juga kepada mamak (saudara laki-laki ibu) atau tokoh yang dihormati dalam keluarga.

Menjaga Tradisi di Tengah Modernitas


Di era serba cepat, sebagian keluarga mungkin mengganti masakan rumahan dengan pesanan dari rumah makan. Namun esensi tradisi tetap dijaga: perhatian, niat baik, dan penghormatan.

Budaya Minangkabau sendiri telah lama dikenal kuat mempertahankan adatnya. Falsafah “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” menjadi fondasi kuat dalam menjaga harmoni antara tradisi dan nilai agama.

Maanta pabukoan menjadi salah satu contoh konkret bagaimana adat dan nilai spiritual berjalan beriringan.

Bukan Sekadar Formalitas, Tapi Warisan


Tradisi ini juga berfungsi sebagai ruang belajar bagi generasi muda. Anak-anak melihat langsung bagaimana orang tua mereka menjaga hubungan keluarga. Mereka mengenal masakan khas daerahnya. Mereka belajar bahwa menghormati orang tua bukan hanya lewat kata, tetapi juga lewat tindakan.

Di tengah derasnya arus globalisasi, tradisi seperti ini menjadi jangkar identitas.
Dan tentu saja, bagi sebagian orang, ini juga menjadi “ujian tak tertulis” bagi para menantu baru. Masakan enak? Bonus. Niat baik dan sikap hormat? Itu yang utama.

Tertarik Jadi Menantu Orang Minang?


Kalau iya, bersiaplah belajar memasak rendang yang sabar dan penuh cinta. Siapkan rantang terbaikmu. Dan yang paling penting: pahami bahwa dalam budaya Minang, keluarga bukan hanya soal hubungan darah, tapi juga tentang menjaga marwah dan silaturahmi.

Karena di ranah Minang, cinta kadang memang diantar menjelang magrib—tersusun rapi dalam rantang bertingkat, hangat, dan penuh makna. Makin tahu Indonesia. (*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update