Pasbana - Di sebuah sudut Thailand Selatan, tepatnya di Narathiwat—wilayah yang berbatasan langsung dengan Malaysia—berdiri bangunan beratap gonjong yang bagi orang Minangkabau terasa begitu akrab.
Lengkung tanduk kerbau yang menjulang itu seolah membawa ingatan pulang ke ranah Minang, ke Tanah Datar, ke jantung budaya Sumatra Barat.
Bangunan itu dikenal sebagai Rumah Minang Thailand, didirikan oleh Jamila Keristhongkam pada 4 September 2019. Ia meniru arsitektur megah Istana Rajo Basa Pagaruyung—ikon kebesaran adat Minangkabau di Batusangkar.
Namun yang berdiri di Narathiwat bukanlah replika kayu seperti di Sumatra Barat, melainkan konstruksi beton dan baja. Modern dalam material, tetapi tetap setia pada jiwa tradisinya.
Rumah ini bukan sekadar bangunan. Ia adalah pernyataan identitas.
Dari Pagaruyung ke Pattani: Ikatan yang Terjalin Jauh Sebelum Kita Lahir
Narathiwat berada di kawasan yang dahulu dikenal sebagai Pattani—sebuah wilayah Melayu yang memiliki sejarah panjang sebagai pusat perdagangan dan penyebaran Islam di Asia Tenggara. Dalam berbagai catatan sejarah,
Pattani pernah menjadi simpul penting jalur dagang antara Sumatra, Semenanjung Malaya, dan wilayah Siam.
Sejarawan mencatat, sejak abad ke-15 hingga ke-17, hubungan dagang dan keagamaan antara Sumatra Barat dan Semenanjung Malaya sangat intens. Ulama, pedagang, dan perantau Minangkabau dikenal aktif bergerak ke berbagai wilayah, termasuk ke Malaysia dan Patani. Tradisi merantau orang Minang—yang menjadi bagian dari falsafah hidup mereka—membuka ruang perjumpaan budaya yang luas.
Dalam konteks itu, kehadiran Rumah Gadang di Narathiwat bukanlah peristiwa tiba-tiba. Ia berdiri di atas memori panjang pergerakan manusia, gagasan, dan keyakinan.
“Minang Budo”: Identitas yang Masih Dihidupi
Di wilayah tersebut, istilah “Minang Budo” kerap terdengar. Ia merujuk pada kesadaran akan jejak budaya Minangkabau yang pernah hadir dan membaur di sana. Rumah Minang Thailand kemudian menjadi ruang diskusi, pertemuan budaya, dan simbol pengingat bahwa akar sejarah tak pernah benar-benar putus.
Menariknya, suasana Narathiwat terasa lebih dekat ke Malaysia ketimbang Bangkok. Bahasa Melayu digunakan luas, mayoritas penduduknya Muslim, dan adat Melayu masih kuat dijalankan.
Kondisi ini membuat jejak Minangkabau lebih mudah berasimilasi. Secara kultural, Minang dan Melayu memang serumpun—memiliki kesamaan dalam sistem kekerabatan, adat istiadat, hingga struktur sosial berbasis nagari dan suku.
Dalam banyak penelitian antropologi, budaya Minangkabau bahkan disebut sebagai salah satu pengaruh penting dalam dinamika masyarakat Melayu di kawasan pesisir. Sistem matrilineal Minangkabau memang unik, tetapi nilai musyawarah, adat bersendi syarak, dan struktur kepemimpinan adat punya resonansi kuat di wilayah Melayu lainnya.
Simbol yang Melampaui Arsitektur
Jika Istana Rajo Basa Pagaruyung di Sumatra Barat menjadi simbol kebesaran adat Minang di tanah asalnya, maka Rumah Gadang di Narathiwat adalah simbol kebesaran ingatan.
Ia membuktikan bahwa identitas tak selalu dibatasi garis negara. Thailand boleh menjadi wilayah kedaulatan Bangkok, tetapi di Narathiwat, denyut Melayu dan Islam tetap hidup. Dan dalam denyut itu, ada gema Minangkabau.
Pembangunan rumah ini juga menunjukkan satu hal penting: budaya tidak punah selama ada yang merawatnya. Jamila Keristhongkam, melalui inisiatif pribadinya, telah menjadikan arsitektur sebagai jembatan sejarah.
Beton dan baja mungkin bahan modern, tetapi semangatnya tradisional—menghubungkan generasi hari ini dengan akar yang jauh di seberang laut.
Jejak yang Perlu Ditelusuri Lebih Jauh
Kisah Rumah Minang Thailand membuka peluang riset yang lebih mendalam mengenai diaspora Minangkabau di Thailand Selatan. Hubungan historis antara Sumatra Barat dan Patani masih menyimpan banyak ruang kajian: mulai dari jalur perdagangan, peran ulama, hingga kemungkinan ikatan genealogis masyarakat setempat.
Bagi Indonesia, ini bukan sekadar cerita nostalgia. Ini adalah bagian dari diplomasi budaya. Ketika warisan Minangkabau berdiri tegak di negeri orang, ia menjadi duta tak resmi yang memperkenalkan kekayaan tradisi Nusantara kepada dunia.
Lebih dari Sekadar Bangunan
Rumah Gadang di Narathiwat adalah metafora tentang perjalanan. Tentang orang-orang yang berlayar, menetap, berbaur, lalu meninggalkan jejak. Tentang budaya yang tidak hilang meski melintasi batas negara.
Di ujung selatan Thailand, gonjong itu berdiri tegak. Mengingatkan bahwa Minangkabau bukan hanya soal tanah asal, tetapi juga tentang keberanian merantau—dan kemampuan membawa pulang ingatan, di mana pun kaki berpijak.
Dan mungkin, di sanalah makna terdalamnya:
bahwa identitas tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menemukan rumah baru. Makin tahu Indonesia. (*)




