Limapuluh Kota, Pasbana - Di sebuah sudut Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, pernah ada suara yang mengalun perlahan—bukan dari pengeras suara, bukan pula dari layar gawai. Ia lahir dari petikan kecapi, dari ingatan panjang seorang penutur, dan dari cerita rakyat yang diwariskan lintas generasi. Suara itu bernama Sijobang.
Sijobang adalah kesenian tutur tradisional Minangkabau yang kini berada di ambang senyap. Ia bukan sekadar hiburan, melainkan teater lisan—perpaduan sastra, musik, dan seni bertutur—yang selama ratusan tahun menjadi medium pendidikan moral, sejarah, dan nilai adat masyarakat Limapuluh Kota.
Bercerita dengan Dendang dan Kecapi
Dalam tradisi Sijobang, seorang seniman yang disebut Tukang Basijobang duduk bersila, memetik kecapi, lalu melantunkan cerita melalui dendang, pantun, dan syair.
Cerita yang paling masyhur adalah kaba Anggun Nan Tungga Magek Jabang, sebuah hikayat epik Minangkabau yang sarat pesan kepahlawanan, kecerdikan, dan nilai adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.
Berbeda dengan pertunjukan modern yang serba visual, kekuatan Sijobang justru terletak pada kata dan imajinasi. Pendengar diajak “melihat” cerita melalui suara—sebuah pengalaman yang kini terasa langka di tengah budaya serba instan.
Menurut sejumlah peneliti sastra lisan Minangkabau, Sijobang memiliki struktur naratif yang kompleks dan kaya simbol, setara dengan tradisi epik lisan di berbagai belahan dunia. Namun ironisnya, kekayaan itu kini hanya dikuasai segelintir orang.
Maestro yang Kian Berkurang
Salah satu nama yang kerap disebut dalam pelestarian Sijobang adalah Asrul Datuk Kodo, maestro yang dikenal luas sebagai penjaga tradisi Basijobang. Namun usia para maestro yang kian menua, tanpa regenerasi yang memadai, membuat keberlangsungan Sijobang berada dalam posisi rawan.
Minat generasi muda menjadi tantangan terbesar. Di tengah derasnya arus budaya populer dan digital, seni tutur yang membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan hafalan panjang ini sering dianggap “tidak relevan”.
Padahal, menurut Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, sastra lisan merupakan bagian penting dari Warisan Budaya Takbenda Indonesia, yang keberadaannya perlu dilindungi karena memuat identitas dan memori kolektif bangsa.
Upaya Merawat yang Masih Terbatas
Berbagai pihak sebenarnya telah bergerak. Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat secara berkala menggelar pelatihan dan pertunjukan, seperti program “Dendang Sijobang Ba Kucapi”, untuk mengenalkan kembali seni ini kepada generasi muda.
Sijobang juga kerap ditampilkan dalam agenda seperti Pekan Budaya Kabupaten Limapuluh Kota, sebagai etalase kearifan lokal. Selain itu, akademisi dan pegiat budaya melakukan pendokumentasian dan penelitian terhadap kaba-kaba Sijobang agar tidak lenyap tanpa jejak.
Namun upaya tersebut dinilai belum cukup. Tanpa masuk ke ruang pendidikan formal, media digital, dan dukungan ekosistem budaya yang berkelanjutan, Sijobang berisiko hanya menjadi catatan arsip—bukan tradisi hidup.
Bukan Sijobang Saja
Ancaman kepunahan juga menghantui kesenian lain di Limapuluh Kota, seperti Sirompak dan Sampelong. Ketiganya mencerminkan satu persoalan yang sama: tradisi lokal kalah cepat dari perubahan zaman.
Sebuah laporan media pada 21 November 2020 mencatat bahwa ketiga kesenian ini membutuhkan perhatian serius agar tidak hilang dari ingatan publik. Tanpa langkah konkret, generasi mendatang mungkin hanya mengenal nama-namanya—tanpa pernah mendengar suaranya.
Menjaga Suara Masa Lalu untuk Masa Depan
Sijobang bukan sekadar cerita lama. Ia adalah cara orang Minangkabau memahami dunia, merawat nilai, dan menyampaikan kebijaksanaan. Kehilangannya berarti kehilangan satu cara berpikir, satu sudut pandang, satu identitas budaya.
Di tengah gempuran globalisasi, menjaga Sijobang tetap hidup bukan soal nostalgia, melainkan soal keberanian merawat akar. Karena bangsa yang besar bukan hanya yang pandai mencipta hal baru, tetapi juga yang mampu menjaga suara lama agar tetap terdengar—meski pelan. Makin tahu Indonesia.
(*)





