Sijunjung, pasbana - Sumatra Barat selama ini identik dengan rendang daging yang telah diakui UNESCO sebagai salah satu kuliner terbaik dunia. Namun di balik popularitas itu, Kabupaten Sijunjung menyimpan cerita lain tentang kekayaan rasa yang tak kalah unik: rendang belalang hingga rendang daun singkong yang kini mulai dikenal lintas negara.
Di Sijunjung, kuliner bukan sekadar makanan, melainkan identitas budaya. Masyarakat setempat terbiasa mengolah bahan pangan lokal menjadi hidangan khas.
Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah Rendang Belalang, sajian tradisional berbahan dasar belalang sawah yang diolah dengan bumbu rendang khas Minangkabau.
Protein tinggi dan cita rasa gurih membuatnya menjadi pengalaman kuliner yang berbeda bagi para wisatawan.
Selain itu, daerah ini juga memiliki deretan makanan tradisional lain seperti rendang daun singkong, kalamai, lamang tongkat, kerupuk ikan, godok obuih, hingga kue talam—semuanya merepresentasikan kekayaan pangan lokal berbasis alam nagari.
Namun sorotan menarik datang dari inovasi sederhana seorang pelaku UMKM muda, Mya Harma. Berangkat dari kecintaan pada masakan kampung halaman, ia mengembangkan rendang daun singkong menjadi produk bernilai ekonomi dengan merek cuk.bi.
Hidangan yang dulunya hanya dikenal di kawasan Tanjung Ampalu kini mulai menjangkau pasar yang lebih luas.
“Awalnya hanya karena teman-teman sangat suka rendang ini. Dari situlah muncul ide menjadikannya bisnis,” ujar Mya.
“Awalnya hanya karena teman-teman sangat suka rendang ini. Dari situlah muncul ide menjadikannya bisnis,” ujar Mya.
Tak disangka, produk tersebut perlahan menembus pasar internasional. Melalui jaringan pertemanan dan diaspora Indonesia, rendang daun singkong cuk.bi telah dibawa hingga Thailand, Mesir, dan Belanda. Di dalam negeri, pemasarannya sudah menjangkau berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya.
Fenomena ini sejalan dengan tren global makanan berbasis nabati. Laporan Organisasi Pangan Dunia (FAO) menyebutkan konsumsi makanan plant-based meningkat signifikan dalam satu dekade terakhir, membuka peluang besar bagi kuliner tradisional berbahan sayur seperti rendang daun singkong.
Kisah dari Sijunjung menunjukkan bahwa inovasi kuliner tidak selalu lahir dari dapur besar atau industri modern. Kadang, ia berawal dari masakan sederhana di nagari—yang ketika dipadukan dengan kreativitas dan semangat wirausaha, mampu membawa cita rasa kampung halaman melintasi batas negara. Makin tahu Indonesia. (*)




