Notification

×

Iklan

Iklan

Geopolitik Memanas, Minyak Menguat — Pasar Global Menahan Napas

31 Maret 2026 | 09:52 WIB Last Updated 2026-03-31T02:52:44Z


Pasbana - Harga minyak dunia kembali menjadi headline utama. Bukan karena keputusan OPEC atau data ekonomi, melainkan karena satu faktor klasik yang selalu ampuh mengguncang pasar: konflik geopolitik.

Senin (30/3) pagi, harga minyak Brent melonjak tajam 3,8% ke kisaran US$116,9 per barel sebelum stabil di sekitar US$115 pada sore hari. Pemicu utamanya datang dari meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah kelompok militan Houthi kembali meluncurkan serangan rudal ke Israel.

Pasar energi langsung membaca situasi ini sebagai sinyal bahaya. Bukan semata soal perang, tetapi soal jalur distribusi energi dunia. Laut Merah — salah satu “urat nadi” perdagangan global — kembali masuk radar risiko. Pengalaman tahun 2023 menjadi pengingat, ketika gangguan di wilayah tersebut sempat membuat banyak kapal Barat menghindari rute tersebut dan biaya logistik melonjak.

Ketika pasokan energi terancam, pasar saham biasanya bereaksi cepat. Bursa Asia kompak melemah: Nikkei turun 3,09%, Kospi 2,97%, dan ASX 200 terkoreksi 0,72%. Sentimen negatif ini melanjutkan tekanan dari Wall Street, di mana S&P 500 telah jatuh ke level terendah tujuh bulan dan mencatat lima pekan penurunan berturut-turut.
IHSG sebenarnya sempat terpukul lebih dalam hingga minus 2,14% secara intraday sebelum akhirnya menutup perdagangan hanya turun tipis 0,08%. Artinya, pasar domestik masih mencoba bertahan di tengah badai global.

Di sisi diplomasi, dinamika justru terasa kontras. Presiden AS, Donald Trump, menyebut komunikasi antara AS dan Iran berlangsung “langsung dan tidak langsung,” memberi harapan adanya jalur negosiasi. Namun Iran tetap mengirim pesan keras dengan memperingatkan kemungkinan serangan terhadap pasukan AS jika terjadi intervensi militer.

Bagi investor, lonjakan harga minyak bukan selalu kabar buruk. Sejarah menunjukkan sektor energi dan komoditas sering menjadi pelindung nilai saat ketidakpastian meningkat. Saham batu bara dan CPO langsung merespons: Adaro Andalan Indonesia (AADI) melonjak 8,9%, Indo Tambangraya Megah (ITMG) naik 4,3%, sementara Triputra Agro Persada (TAPG) dan Dharma Satya Nusantara (DSNG) masing-masing menguat di atas 7%.

Pelajaran ekonominya sederhana: ketika dunia memanas, energi menjadi mahal — dan pasar akan selalu mencari siapa yang diuntungkan dari situasi tersebut. (*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update