Notification

×

Iklan

Iklan

IHSG Terkoreksi Tajam: Panik atau Justru Peluang?

27 Maret 2026 | 22:23 WIB Last Updated 2026-03-27T15:23:11Z


Pasbana - Pasar saham Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Dalam waktu kurang dari tiga bulan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok sekitar -23,1%, dari level tertinggi sepanjang masa di kisaran 9.135 pada Januari 2026 menjadi sekitar 7.022 menjelang libur Lebaran.

Penurunan ini bukan tanpa sebab. Tiga guncangan datang hampir bersamaan: pembekuan sementara indeks Indonesia oleh MSCI, konflik Amerika Serikat–Iran yang mendorong harga minyak melonjak lebih dari 40% akibat penutupan Selat Hormuz, serta meningkatnya kekhawatiran fiskal karena asumsi APBN soal harga minyak dan kurs mulai meleset.

Namun sejarah pasar selalu memberi konteks. Koreksi sekitar 23% sebenarnya bukan kejadian luar biasa. Dalam dua dekade terakhir, penurunan serupa pernah terjadi pada episode Taper Tantrum 2013, China Scare 2015, hingga aksi jual besar 2025—dan semuanya berakhir tanpa krisis sistemik. Penurunan ekstrem di atas 40% biasanya hanya muncul saat krisis global besar seperti krisis finansial 2008 atau pandemi Covid-19 2020.

Artinya? Secara statistik, IHSG berpotensi sudah berada di area mendekati dasar siklus.

Pasca libur Lebaran, indeks bahkan mulai menunjukkan napas pemulihan dengan kenaikan sekitar 1%. Valuasinya kini berada di kisaran 11,4 kali forward P/E, jauh di bawah rata-rata historis 15 tahun. Sederhananya: pasar saham Indonesia sedang berada di zona “diskon besar”.

Bagi investor, fase seperti ini justru menuntut kepala dingin. Investor lama perlu mengevaluasi ulang portofolio: apakah alasan membeli saham tersebut masih relevan, dan seberapa besar dampak kenaikan harga minyak terhadap laba perusahaan. Sedangkan investor jangka panjang sering kali menemukan peluang terbaik justru saat sentimen pasar paling suram.

Ke depan, ada tiga faktor kunci yang perlu diawasi. Pertama, lamanya konflik AS–Iran dan arah harga minyak dunia. Kedua, kemampuan pemerintah menjaga defisit fiskal tetap di bawah 3% PDB. Ketiga, keberhasilan reformasi pasar modal sebelum tenggat MSCI pada Mei 2026.

Pasar saham selalu bergerak dalam siklus emosi—takut dan optimisme datang bergantian. Pertanyaannya bukan lagi apakah pasar sedang turun, tetapi: siapa yang mampu membaca peluang di tengah ketidakpastian.(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update