Pariaman, pasbana - Ada satu pelajaran menarik dari berakhirnya Piaman Barayo 2026 di Kota Pariaman: tradisi ternyata bukan sekadar nostalgia, tetapi juga kekuatan ekonomi nyata.
Selama sepekan suasana Lebaran, Kota Pariaman berubah layaknya ruang temu besar antara budaya, pariwisata, dan perputaran uang masyarakat. Lebih dari 56 ribu pengunjung tercatat memadati berbagai destinasi wisata. Dampaknya langsung terasa—Pendapatan Asli Daerah (PAD) diperkirakan menembus Rp420 juta.
Angka ini mungkin terlihat sederhana di atas kertas fiskal daerah, tetapi maknanya jauh lebih besar. Setiap wisatawan yang datang berarti kamar penginapan terisi, warung makan hidup, pedagang kecil tersenyum, hingga pelaku UMKM mendapatkan momentum emas yang tidak datang setiap hari.
Wali Kota Pariaman, Yota Balad, menyampaikan apresiasi mendalam kepada masyarakat, perantau, dan wisatawan yang telah menjadikan Piaman Barayo sebagai perayaan Lebaran bersama. Ia menilai keramaian yang tetap tertib menjadi bukti bahwa Pariaman mampu mengelola pariwisata berbasis budaya secara sehat.
Lebih dari sekadar festival, Piaman Barayo memperlihatkan model pembangunan ekonomi daerah yang menarik: menggerakkan ekonomi tanpa kehilangan identitas lokal. Kehadiran para perantau, yang pulang membawa cerita sekaligus daya beli, menjadi “bahan bakar” utama perputaran ekonomi musiman ini.
Di tengah persaingan destinasi wisata di Sumatera Barat, Pariaman tampaknya menemukan formula sendiri—mengemas tradisi menjadi pengalaman wisata. Strategi ini penting, sebab tren pariwisata modern tidak lagi hanya menjual tempat, melainkan suasana dan keterlibatan emosional.
Ke depan, tantangan terbesar bukan lagi menarik pengunjung, tetapi menjaga kualitas pengalaman mereka. Infrastruktur, kebersihan, keamanan, hingga inovasi acara akan menentukan apakah lonjakan ekonomi ini dapat berulang setiap tahun.
Piaman Barayo 2026 akhirnya selesai, namun pesan ekonominya jelas: ketika budaya dirawat dan masyarakat dilibatkan, sebuah kota kecil pun mampu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi sementara—yang dampaknya terasa nyata bagi warganya.
Lebaran boleh usai, tetapi denyut ekonomi yang ditinggalkannya menjadi modal optimisme bagi Pariaman untuk terus berbenah sebagai destinasi unggulan daerah. (*)




