Pasbana - Sebelum sejarawan lokal sempat mencatatnya, seorang filolog Belanda bernama J.L.A. Brandes lebih dulu berlomba dengan waktu — menyelamatkan manuskrip-manuskrip kuno yang menjadi tulang punggung identitas budaya Nusantara.
Ada ironi yang diam-diam tersimpan dalam lembar-lembar sejarah Minangkabau: ingatan kolektif tentang asal-usul, silsilah, dan adat-istiadat yang begitu dijaga masyarakatnya, justru terselamatkan — sebagian besarnya — oleh seorang pria dari negeri yang jauh. Namanya Dr. Jan Laurens Andries Brandes, filolog dan epigraf Belanda yang hidup antara 1857 hingga 1905.
Di usia yang relatif singkat, Brandes menorehkan kontribusi yang sulit diukur nilainya. Ia berpacu dengan waktu — menyelamatkan manuskrip-manuskrip Nusantara yang rentan lapuk, hilang, atau sengaja dimusnahkan.
Di antara yang berhasil ia amankan adalah Nagarakretagama, epik agung tentang kejayaan Majapahit. Namun jejaknya tak hanya berhenti di tanah Jawa.
"Manuskrip bukan sekadar kertas tua — ia adalah percakapan lintas zaman. Brandes memilih untuk mendengarkan, saat banyak orang lain memilih mengabaikannya."
— Catatan para sejarawan kebudayaan NusantaraTambo Minangkabau — naskah yang merekam silsilah dan akar adat-budaya masyarakat Minangkabau — turut masuk dalam koleksi yang ia katalogkan dengan teliti. Bagi masyarakat Minangkabau, tambo bukan sekadar dokumen; ia adalah cermin dari siapa mereka, dari mana mereka berasal, dan aturan-aturan tak tertulis yang mengatur tatanan sosialnya selama berabad-abad.
Kumpulan naskah yang berhasil Brandes selamatkan dan sistematisasi kemudian menjadi fondasi penting bagi para sejarawan modern dalam menyusun kembali akar peradaban daerah. Tanpa katalogisasinya, banyak benang sejarah yang kini kita andalkan mungkin sudah putus — tak terjejak.
Kisah Brandes mengingatkan kita pada sebuah pertanyaan yang tak mudah dijawab: mengapa seringkali justru orang luar yang pertama kali menyadari betapa berharganya warisan kita?
Di era digital ini, ketika digitalisasi naskah kuno sedang digencarkan oleh berbagai lembaga — dari Perpustakaan Nasional RI hingga universitas-universitas di Eropa — semangat Brandes seolah hidup kembali dalam format yang baru.
Warisan yang ia tinggalkan bukan hanya koleksi manuskrip — melainkan sebuah pengingat bahwa identitas budaya adalah aset yang harus dijaga, bukan diasumsikan akan selalu ada. Makin tahu Indonesia.(*)




