Pasaman Barat, pasbana – Upaya percepatan penurunan stunting di Kabupaten Pasaman Barat menunjukkan hasil positif. Berdasarkan laporan Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPGBM) Februari 2026, prevalensi stunting berhasil ditekan menjadi 10,5 persen, turun dari 12,4 persen pada Agustus 2025 dan jauh lebih rendah dibandingkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2023 yang mencapai 29,7 persen.
Capaian tersebut menjadi salah satu fokus dalam Pertemuan Advokasi Lintas Sektor Integrasi Intervensi Penurunan Stunting 2026 yang digelar Dinas Kesehatan Kabupaten Pasaman Barat bersama Program Investing in Nutrition and Early Years (INEY) Fase II Poltekkes Kemenkes Padang di Aula Bappelitbangda, Jumat (26/6).
Forum ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan mulai dari pemerintah daerah, tenaga kesehatan, kecamatan, nagari, sekolah hingga TP PKK untuk memperkuat sinergi dalam mempertahankan tren penurunan stunting.
Program INEY Fase II merupakan bagian dari transformasi layanan primer Kementerian Kesehatan yang berfokus pada penguatan layanan promotif dan preventif melalui puskesmas serta posyandu. Program ini dijalankan di 80 kabupaten/kota pada 34 provinsi dengan melibatkan 38 Poltekkes sebagai pendamping teknis di lapangan.
Pendampingan mencakup pemantauan pertumbuhan balita, pemberian makanan tambahan berbasis pangan lokal, peningkatan cakupan imunisasi, pendampingan ibu hamil, distribusi tablet tambah darah bagi ibu hamil dan remaja putri, hingga penguatan kapasitas kader posyandu dan sistem pelaporan.
Melalui kolaborasi lintas sektor yang semakin kuat, Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat optimistis angka stunting dapat terus ditekan sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak secara berkelanjutan. (*)




