BUKITTINGGI, pasbana— Setelah lama tak bersua, Puhun Pintu Kabun kembali “barameh”. Bukan sekadar ramai oleh kerumunan warga, tetapi oleh bunyi gandang, gerak tari, musik tradisional, kuliner, dan berbagai ekspresi budaya Minangkabau.
Suasana itu hadir dalam Festival Anak Nagari Pintu Kabun Baralek Gadang yang digelar Senin (24/8/2026). Mengusung tema “Lamo Tak Basuo, Kini Kambali Barameh”, festival tersebut menjadi ruang perjumpaan sekaligus panggung bagi masyarakat untuk merawat warisan budaya.
Sebanyak 20 sanggar dari wilayah Bukittinggi dan Agam tampil dalam kegiatan yang sebelumnya juga digelar di sejumlah lokasi. Bagi masyarakat, kehadiran puluhan sanggar itu bukan hanya tontonan. Ada pesan yang lebih panjang: tradisi akan tetap hidup jika terus diberi ruang untuk dipelajari, dipentaskan, dan diwariskan.
Anggota DPRD Sumatera Barat, Asril, menilai kebudayaan merupakan salah satu kekuatan penting pariwisata. Wisatawan, menurut dia, tidak hanya mencari pemandangan, tetapi juga pengalaman dan karakter masyarakat setempat.
“Budaya yang orisinal harus terus digali dan dipelihara agar tetap hidup,” ujarnya.
Pesan itu terasa relevan bagi Bukittinggi. Kota di dataran tinggi ini bukan hanya dikenal karena Jam Gadang dan Ngarai Sianok, tetapi juga memiliki jejak sejarah dan budaya Minangkabau yang kuat.
Kekayaan tersebut menjadi bagian penting dari pengalaman wisata di kota yang berada di ketinggian lebih dari 900 meter di atas permukaan laut itu.
Festival Pintu Kabun pun dikemas lebih luas. Pertunjukan seni berpadu dengan pameran warisan budaya, kuliner tradisional, hingga berbagai kompetisi. Dengan demikian, budaya tidak ditempatkan sebagai benda lama yang hanya disimpan, tetapi sebagai sesuatu yang dapat dinikmati dan dikembangkan.
Yang tak kalah penting adalah soal regenerasi.
Asril memandang pengenalan seni dan budaya kepada anak muda dapat menjadi pintu untuk memahami adat dan nilai keagamaan yang hidup dalam masyarakat Minangkabau, sejalan dengan falsafah Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah.
Sebab, budaya tanpa pewaris akan perlahan menjadi sekadar kenangan. Sebaliknya, ketika generasi muda diberi panggung, tradisi memiliki kesempatan untuk kembali “barameh”—hidup, bergerak, dan menemukan tempatnya di zaman yang terus berubah.
Di Pintu Kabun, pesta budaya itu akhirnya bukan hanya tentang merayakan masa lalu. Ia menjadi cara sederhana untuk memastikan bahwa identitas Minangkabau tetap punya masa depan. Makin tahu Indonesia.(*)




