Bangunan Aman Gempa, Belajar Dari Nan Sudah

Iklan Semua Halaman

Bangunan Aman Gempa, Belajar Dari Nan Sudah

Admin Minangkabau
09 December 2016
            

Gempa yang mengguncang Indonesia bagian utara, khususnya Kabupaten Pidie Jaya Propinsi Nangroe Aceh Darussalam Rabu ( 7/12 ) menimbulkan dampak besar. Terutama runtuhnya sejumlah bangunan. Banyak nyawa yang menjadi korban akibat runtuhnya bangunan dalam gempa di Pidie Jaya.

Jika menengok kepada sejarah dan kondisi wilayah Propinsi Sumatera Barat yang juga rentan terhadap bencana gempa. Sudah saatnya, masyarakat Sumatera Barat bisa mengambil pelajaran sekali lagi dari kejadian gempa di Pidie Jaya ini. Maulang kaji dan Belajar  ka nan sudah...

Sudah semestinya kita fokus dan lebih memperhatikan ketentuan pada bangunan aman gempa ini. Minangkabau memiliki kearifan lokal mengenai Bangunan aman Gempa.


Menurut pengamat Mitigasi Bencana yang juga dosen Lingkungan di S3 Ilmu Lingkungan Universitas Negeri Padang , Siti Fatimah ,  bangunan dan Masjid yang roboh akibat gempa 7 Desember 2016  rata-rata tidak memiliki dinding penyanggah kecuali hanya tiang saja. Bu Fat yang kebetulan sedang berada di Pidie ( 7/12 ) menyampaikan bahwa sebagian besar bangunan yang roboh tidak memenuhi standar Bangunan Aman Gempa.


Dari pengamatannya, pecahan bangunan yang roboh tersebut  berukuran besar-besar sehingga tingkat pencederaannya lebih tinggi.

Ferro Cement, Alternatif Bangunan Aman Gempa

Ada banyak inovasi di bidang konstruksi dari anak bangsa yang harus kita banggakan, salah satunya adalah Pondasi Konstruksi Sarang Laba-laba. Teknologi Konstruksi ini merupakan hasil penelitian Ryantori dan Sutjipto yang merupakan konstruksi pondasi yang ramah gempa.Hal ini teruji dari beberapa bangunan-bangunan yang menggunakan KSLL di daerah yang pernah mengalami gempa seperti Nangroe Aceh Darussalam yang mencapai 9 skala richter, Papua, Sumatra Barat dan Bengkulu.


Konsruksi yang tahan terhadap bencana gempa lainnya adalah struktur  Ferrocement. Struktur ini mampu menahan beban dinamis,   Ferrocement  adalah adalah campuran semen, pasir dan air yang menggunakan kawat jala halus dan tulangan baja sebagai pengaku.

Ferrocementmerupakan bahan alternatif untuk konstruksi rumah. Teknik pengerjaan Ferrocement tidak jauh berbeda dengan teknik pengerjaan beton bertulang pada umumnya. Namun,  Ferrocement membutuhkan bahan yang relatif sedikit bila di bandingkan dengan beton bertulang.

Minangkabau sebagai salah satu suku bangsa yang kaya akan kearifan lokal, telah memiliki solusi cerdas dalam menyiapkan bangunan aman gempa. Di Minangkabau, dikenal penggunaan dinding yang berbahan Sasak Bugih. Ketahanan, kekuatan, dan elastisitasnya dalam menahan gejolak goncangan gempa sudah sangat teruji. Dan dalam perkembangannya, pemanfaatan Sasak Bugih mengalami inovasi. Dinding Sasak Bugih yang berbahan baku anyaman bambu, kini bisa digantikan dengan bahan kawat rajut. Disamping kokoh , kawat memiliki daya rentang dan elastisitas yang cukup tinggi. Teknologi ini dikenal dengan istilah Ferro Cement.

Sasak Bugih  dan Ferro Cement memiliki karakter dan prinsip dasar yang sama, hanya beda material. Sasak Bugih bahan pengikatnya menggunakan anyaman bambu, sementara Ferro Cement bahan pengikatnya berupa anyaman kawat. Bahan pengisinya tetap sama menggunakan campuran pasir-semen.


Penggunaan Ferro Cement sudah selayaknya dapat disosialisasikan ke masyarakat Sumatera Barat secara lebih masif , sebagai bagian dari usaha mitigasi bencana dan pengurangan resiko bencana. Koordinator Forum Pengurangan Resiko Bencana ( FPRB ) Sumbar Khalid Syaifullah menyebutkan, Sumbar adalah daerah etalase bencana, usaha dan inovasi untuk mengurangi resiko dari terjadinya bencana mutlak harus dilakukan. Menurutnya, teknologi dinding ferro cement perlu disosialisasikan . Dan memungkinkan untuk dijadikan salah satu program dari FPRB Sumatera Barat.

Dari data yang diperoleh PASBANA.com melalui Ade Edward, Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia - Sumbar, di Tanah Datar telah terbentuk relawan yang fokus terhadap bangunan aman gempa. Mereka terbentuk di 2 Nagari Tangguh Bencana. Dan pihak BPBD Tanah Datar juga telah fokus dengan program sosialisasi bangunan aman gempa ini . Hal ini juga tak lepas dari peran Bupati Irdinansyah Tarmizi yang cukup respek untuk perihal bangunan aman gempa .

Dan program Bangunan Aman Gempa ini telah diaplikasikan pada beberapa rumah . Pada rumah-rumah tersebut  dilabel  "Rumah Aman Gempa" , hal ini untuk mendorong masyarakat lain berkeinginan membangun dengan teknologi dinding ferro cement.

Di Nagari Malalo dan Gunuang Rajo para pemuda relawan Bencana belajar dari kearifan pendahulu mereka . Dan kemudian mereka mengembangkan sendiri dengan memodifikasi dinding teknologi "Sasak Bugih" menjadi "Dinding Ferro Cement" yang lebih aman gempa.
Hasilnya,  bangunan aman gempa yang dibangun pemuda relawan tersebut berbasis teknologi  ferro cement menjadi lebih murah dan lebih aman gempa dibandingkan dinding berbahan batamerah, batako, hollow brick.

Keunggulan lain dari dinding ferro cement adalah ketika pecah karena gempa,  pecahannya akan berukuran kecil-kecil dan tersangkut pada anyaman kawat didalamnya . Sehingga  tingkat pencederaannya jauh lebih rendah daripada pecahan dinding bata merah batako hollowbrick. Rumah dengan dinding ferro cement ini sebenarnya di kalangan masyarakat daerah tertentu sudah cukup familiar.Terutama di daerah Batipuh, Gunuang Rajo , Malalak dan beberapa wilayah di Kabupaten Tanah Datar.

Yang penting untuk disosialisasikan ke masyarakat adalah bukan gempa nya yang mencederai dan menghilangkan nyawa seseorang, namun bangunan nya.

Kontribusi Kalangan Akademisi Dan Mahasiswa Dinanti

Sumatera Barat adalah wilayah yang rentan terkena bencana alam gempa.  Dan telah berulang kali jatuh korban dari bencana gempa ini. Namun Sumbar minim  terobosan baru dan inovasi teknologi yang berkaitan dengan riset bangunan aman gempa .

Disinilah perlu perhatian dan kepedulian dari kalangan akademisi dan mahasiswa mengenai hal ini.  Belajar dari gempa Pidie ini, segenap elemen yang berwenang dan berkompeten dapat berkoordinasi untuk lebih mengedepankan mitigasi bencana terutama sosialisasi bangunan aman gempa. Meski bidang Mitigasi kurang populer dibandingkan kegiatan rescue dan evakuasi bencana.

Inyong Budi

Referensi: untukmunegeri.wordpress.com