Notification

×

Iklan

Iklan

Kenapa China Bisa Melaju Cepat? Jawabannya Ada pada Sikap Kerja

03 Januari 2026 | 14:38 WIB Last Updated 2026-01-03T07:38:17Z


Pasbana - Liburan akhir tahun sering kali hanya meninggalkan foto-foto indah. Namun bagi sebagian orang, perjalanan justru membuka mata—tentang cara sebuah bangsa bekerja, bergerak, dan memandang waktu. Dari sanalah sebuah pertanyaan besar muncul: kenapa China bisa melaju sejauh ini?

Jawabannya ternyata tidak melulu soal teknologi, modal besar, atau kebijakan negara. Ada faktor yang lebih mendasar, lebih kasat mata, dan terasa langsung di jalanan: perilaku dan sikap kerja (behaviour and attitude).

Shenzhen: Kota yang Tidak Pernah Melambat


Pengalaman itu terasa kuat saat mengunjungi Shenzhen—kota yang sering disebut sebagai “Silicon Valley-nya China”. Menginap di jantung pusat kota membuat denyut ekonominya terasa nyata sejak pagi hingga larut malam.

Gedung perkantoran, apartemen, pusat perbelanjaan, hingga ruang-ruang publik berdiri rapat. Aktivitas manusia mengalir tanpa jeda. Bahkan berjalan kaki di trotoar pun butuh kewaspadaan ekstra.

Di sana, trotoar bukan hanya milik pejalan kaki. Sepeda motor listrik—hampir 100 persen—lalu-lalang dengan kecepatan tinggi. Mayoritas pengendaranya adalah kurir dan pengemudi layanan antar makanan. Mereka bergerak cepat, efisien, tanpa banyak berhenti.

Yang mencolok bukan sekadar kecepatan, tapi etos kerja.

Waktu Adalah Segalanya


Para pengemudi itu tak tampak santai. Tidak terlihat nongkrong lama, tidak berbincang berlebihan, tidak memilah-milih pesanan. Begitu satu tugas selesai, mereka langsung bergerak ke tugas berikutnya.

Di pusat perbelanjaan, pemandangan serupa terlihat jelas. Para kurir naik eskalator hampir berlari demi mengambil pesanan secepat mungkin. Di hotel, mereka memarkir kendaraan dengan sigap, menyerahkan paket, lalu kembali melaju tanpa menunda.

Menariknya, sebagian besar dari mereka masih sangat muda—usia produktif, sebaya mahasiswa. Namun sikap kerjanya jauh dari kesan “menunggu kesempatan”. Mereka menciptakan kesempatan itu sendiri.

Profesionalisme yang Tidak Mengenal Kompromi


Pengalaman serupa muncul dalam perjalanan lain, saat mengikuti tur ke salah satu kota wisata di China. Pemandu wisata yang memimpin rombongan tergolong muda, sekitar pertengahan 30-an. Namun sejak pertemuan pertama, profesionalismenya terasa kuat.

Ketika bus rombongan terlambat menjemput—meski hanya beberapa menit—reaksinya tegas. Ia menegur sopir, yang kebetulan teman dekatnya sendiri. Tidak ada toleransi untuk keterlambatan.

“Kalau macet, seharusnya berangkat lebih awal. Tidak ada alasan membuat orang menunggu,” begitu prinsip yang dipegang.
Di kesempatan lain, rombongan dijadwalkan makan malam di restoran hot pot terkenal. Pemandu tersebut sudah menghubungi restoran 45 menit sebelumnya agar semuanya siap, termasuk pengaturan khusus untuk tamu muslim

Namun saat tiba, meja khusus belum siap. Alasannya: jam ramai.

Reaksi pemandu itu kembali menunjukkan standar kerja yang tinggi. Ia langsung meminta bertemu pemilik restoran, bukan manajer. Tegurannya keras dan terbuka. Bukan soal emosi semata, melainkan soal tanggung jawab terhadap layanan.

Yang lebih mengejutkan, ia memilih tidak makan sama sekali malam itu sebagai bentuk protes profesional. Ia menunggu di luar, sementara rombongan makan.

Komitmen yang Dibayar Mahal


Belakangan baru diketahui, keputusan itu berdampak serius. Pemandu tersebut memiliki riwayat asam lambung parah. Tidak makan dan kelelahan membuat kondisinya memburuk. Ia harus dilarikan ke rumah sakit dan dirawat pada dini hari.

Namun keesokan paginya, sekitar pukul setengah enam, ia sudah kembali bekerja. Mengkoordinasikan rombongan seperti tidak terjadi apa-apa. Wajahnya tetap ramah, energinya tetap penuh.

Ketika akhirnya ditanya alasan di balik komitmen ekstrem itu, jawabannya sederhana namun menggetarkan:
“Di China ada lebih dari satu miliar orang. Kompetisinya sangat ketat. Kalau kamu tidak bertanggung jawab, tidak berkomitmen, dan tidak bekerja keras, kamu akan tergantikan. Dengan cepat.”

Pelajaran yang Lebih Besar


Data global mendukung gambaran ini. Laporan World Bank dan OECD menunjukkan bahwa produktivitas tenaga kerja China meningkat pesat dalam tiga dekade terakhir, seiring budaya kerja yang menekankan disiplin, efisiensi, dan orientasi hasil. 

Sementara riset dari Harvard Business Review juga mencatat bahwa budaya “sense of urgency” menjadi salah satu faktor kunci daya saing perusahaan-perusahaan China di pasar global.

Maka, ketika bertanya kenapa China bisa maju, jawabannya terasa semakin jelas.
Bukan karena mereka bekerja lebih lama semata, tetapi karena mereka bekerja dengan sikap yang konsisten, disiplin terhadap waktu, dan bertanggung jawab penuh pada peran masing-masing.

Pertanyaan berikutnya mungkin lebih reflektif:
kapan budaya seperti ini bisa tumbuh lebih luas di Indonesia?

Menjelang akhir 2025, pertanyaan itu layak direnungkan bersama. Bukan untuk membandingkan secara dangkal, tetapi untuk belajar—bahwa kemajuan sebuah bangsa sering kali dimulai dari hal yang paling mendasar: cara manusianya memandang kerja.

Semoga setiap perjalanan—baik fisik maupun batin—membawa pelajaran terbaik. Dan semoga langkah menuju 2026 tetap berada di jalur yang tepat.(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update