Notification

×

Iklan

Iklan

Menahan Bunga, Menjaga Rupiah: Jurus Sunyi BI di Tengah Tekanan Global

20 Februari 2026 | 10:59 WIB Last Updated 2026-02-20T03:59:51Z


Pasbana - Di tengah tekanan dolar AS yang masih perkasa, Bank Indonesia memilih bermain aman. Rapat Dewan Gubernur, Kamis (19/2), memutuskan menahan BI Rate di 4,75%. Suku bunga lending facility tetap 5,5% dan deposit facility 3,75%. 

Sebuah keputusan yang terukur—dan penuh pesan.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan fokus utama saat ini adalah stabilitas rupiah sekaligus menjaga inflasi dan pertumbuhan ekonomi tetap di jalurnya. Rupiah sendiri tercatat melemah sekitar 1,13% secara year to date ke level 16.880 per dolar AS. 

Namun menurut Perry, nilai tukar saat ini belum mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia yang relatif solid dan inflasi yang terkendali.

Artinya? BI melihat pelemahan ini lebih dipicu sentimen global ketimbang persoalan domestik.

Untuk meredam gejolak, bank sentral memperkuat intervensi lewat pasar offshore NDF, transaksi spot, dan DNDF domestik. Bahkan, Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti menyebut pendalaman pasar rupiah–yuan akan dipercepat. 

Langkah ini strategis, mengingat transaksi dagang Indonesia–China terus meningkat dan bisa mengurangi ketergantungan pada dolar AS.

Namun yang tak kalah penting adalah soal transmisi kebijakan. Sepanjang 2025, BI sudah memangkas suku bunga 125 basis poin. Tetapi, penurunan bunga kredit baru bergerak 40 bps menjadi 8,80%. Sementara bunga deposito turun 68 bps ke 4,13%.

Ketimpangan ini membuat BI mendorong bank lebih agresif menurunkan bunga kredit baru lewat kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM).

Kabar baiknya, kredit mulai menggeliat. Pertumbuhan kredit mencapai sekitar 10% secara tahunan per Januari 2026, naik dari kisaran 7–8% di pertengahan 2025. Manajemen Bank Central Asia ($BBCA) dan Bank Mandiri ($BMRI) pun mengakui tren bunga kredit yang mulai melandai.

Pasar kini menanti babak berikutnya. Konsensus Bloomberg memperkirakan ruang pemangkasan suku bunga BI dan The Fed masih terbuka hingga 50 bps sampai akhir 2026.

Menahan bukan berarti diam. Dalam bahasa moneter, ini adalah strategi menjaga napas ekonomi tetap stabil sambil menunggu waktu yang tepat untuk melangkah lebih jauh.(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update