Pasaman Barat, pasbana - Di tepian sungai yang tenang di Pasaman Barat, Sumatera Barat, ada satu aroma yang kerap menguar dari dapur-dapur rumah warga. Harumnya pekat, tajam, dan mengundang rasa lapar.
Itulah Rendang Lokan Maligi—kuliner khas Desa Wisata Maligi yang kini pelan-pelan mencuri perhatian, bukan hanya di ranah Minang, tetapi juga hingga ke luar daerah.
Jika selama ini orang mengenal rendang sebagai sajian daging sapi yang mendunia, Maligi punya cerita berbeda. Di sini, rendang tak selalu soal sapi. Ia bisa lahir dari lokan—kerang sungai yang hidup di aliran Batang Maligi.
Dari Sungai ke Kuali: Kisah Lokan Batang Maligi
Lokan yang digunakan bukan sembarang kerang. Ia dipanen dari perairan Sungai Batang Maligi, yang memiliki karakter arus dan mineral khas. Warga setempat percaya, kualitas air sungai ini memengaruhi tekstur dan rasa lokan—lebih kenyal, tidak amis, dan punya sensasi gurih alami.
Secara ilmiah, kerang air tawar dikenal sebagai sumber protein hewani yang tinggi serta mengandung zat besi, seng (zinc), dan vitamin B12 yang baik untuk pembentukan sel darah merah.
Sejumlah literatur gizi perikanan juga menyebutkan bahwa moluska air tawar relatif rendah lemak namun padat nutrisi. Inilah yang membuat Rendang Lokan bukan hanya lezat, tetapi juga bernilai gizi tinggi.
“Dari dulu, lokan sudah jadi lauk harian masyarakat di sekitar sungai. Tapi diolah jadi rendang, rasanya naik kelas,” ujar salah satu pelaku UMKM di Maligi.
Sentuhan Api Kayu: Tradisi yang Menjaga Rasa
Keistimewaan lain terletak pada proses memasaknya. Banyak perajin Rendang Lokan Maligi masih setia menggunakan kayu bakar. Api yang tidak stabil justru menjadi kunci: panasnya merata dan perlahan, membuat santan menyusut sempurna dan bumbu meresap hingga ke serat lokan.
Bumbu yang digunakan tetap setia pada pakem rendang Minang: cabai merah, bawang merah, bawang putih, jahe, lengkuas, kunyit, serai, dan daun jeruk. Proses memasaknya memakan waktu berjam-jam, hingga kuah santan berubah menjadi pekat dan berminyak, menandakan rendang matang sempurna.
Aroma asap kayu bakar memberi sentuhan khas yang sulit ditiru kompor modern. Di sinilah rasa tradisi bertemu ketekunan.
Tekstur Kenyal, Rasa Menggigit
Berbeda dengan rendang daging yang berserat, Rendang Lokan menawarkan sensasi kenyal namun lembut. Setiap gigitan menghadirkan perpaduan rasa gurih, pedas, dan sedikit manis dari karamelisasi santan. Tidak berlebihan jika banyak wisatawan menyebutnya sebagai “kejutan rasa” dari Pasaman Barat.
Kombinasi ini menjadikan Rendang Lokan sebagai alternatif bagi pecinta seafood yang ingin menikmati kekayaan bumbu Minang dalam bentuk berbeda.
Oleh-Oleh Bergizi dari Desa Wisata
Sebagai bagian dari identitas Desa Wisata Maligi, rendang ini kini menjadi produk unggulan UMKM setempat. Dikemas dalam kemasan modern—vakum atau kaleng—Rendang Lokan mampu bertahan cukup lama tanpa bahan pengawet berlebihan, selama proses sterilisasi dan pengemasan dilakukan sesuai standar keamanan pangan.
Tren wisata kuliner dan minat terhadap produk lokal berkualitas turut mendorong popularitasnya. Di tengah geliat ekonomi kreatif Sumatera Barat, produk seperti Rendang Lokan Maligi menunjukkan bahwa desa bisa menjadi pusat inovasi berbasis tradisi.
Bagi wisatawan yang berkunjung ke Pasaman Barat, membawa pulang Rendang Lokan bukan sekadar membeli makanan. Ia adalah cara membawa pulang cerita: tentang sungai, tentang api kayu, tentang tangan-tangan terampil yang menjaga resep turun-temurun.
Potensi yang Masih Terbuka Lebar
Dengan meningkatnya minat pasar terhadap pangan lokal bernilai gizi tinggi dan bercita rasa autentik, Rendang Lokan Maligi memiliki peluang besar untuk menembus pasar nasional bahkan ekspor, terutama di segmen makanan khas premium.
Tantangan ke depan tentu ada—mulai dari standardisasi produksi, sertifikasi halal, hingga penguatan branding. Namun satu hal jelas: kekuatan utamanya sudah ada—keunikan bahan baku, kekayaan rempah, dan cerita yang kuat.
Di tengah arus modernisasi kuliner, Rendang Lokan Maligi mengingatkan kita bahwa inovasi tak selalu berarti meninggalkan tradisi. Kadang, yang perlu dilakukan hanyalah merawatnya dengan lebih serius.
Dan dari Batang Maligi, rasa itu terus mengalir. Makin tahu Indonesia. (*)






