Langit Aceh seperti ikut menunduk pada awal Ramadan 1447 Hijriah.
Pidie, pasbana - Di saat umat Islam menyambut bulan suci dengan doa dan harapan, kabar duka menyebar cepat dari Reubee, Kecamatan Delima, Kabupaten Pidie. Ulama kharismatik, Abu Bukhari bin Sanusi—yang akrab disapa Abu Cek Reubee—berpulang ke rahmatullah.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.”
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.”
Kalimat itu berulang kali terdengar dari meunasah ke meunasah, dari warung kopi hingga pesan WhatsApp warga. Seolah tak ada yang siap menerima kenyataan bahwa sosok tempat bertanya, tempat meminta nasihat, dan tempat menyelesaikan persoalan umat itu kini telah tiada.
Ulama dan Tradisi Dayah Aceh
Untuk memahami sosok Abu Cek, kita perlu memahami satu hal: Aceh dan tradisi dayah tak bisa dipisahkan.
Sejak abad ke-17, Aceh dikenal sebagai salah satu pusat keilmuan Islam di Nusantara.
Sistem pendidikan dayah—pesantren tradisional khas Aceh—telah melahirkan ulama besar yang berperan bukan hanya sebagai guru agama, tetapi juga sebagai penengah konflik sosial, penguat moral masyarakat, hingga penjaga tradisi keislaman.
Abu Cek tumbuh dalam tradisi itu.
Ia menimba ilmu di Dayah Lampoh Pande Reubee, lalu melanjutkan rihlah ilmiahnya ke Dayah MUDI MESRA di Samalanga—salah satu dayah paling berpengaruh di Aceh. Di sana, ia berguru kepada ulama besar Aceh, di antaranya Abon Aziz Samalanga, yang dikenal luas sebagai figur sentral pendidikan Islam tradisional Aceh.
Di lingkungan dayah, kecerdasan bukan satu-satunya ukuran. Adab, tawadhu, dan kesungguhan menjadi fondasi utama. Dan di situlah Abu Cek dikenal menonjol.
Ia bukan tipe yang banyak bicara, tetapi selalu hadir saat dibutuhkan.
Pelita dalam Persoalan Faraidh
Bagi masyarakat Pidie dan sekitarnya, Abu Cek bukan sekadar pengajar kitab kuning. Ia adalah rujukan utama dalam persoalan faraidh—ilmu pembagian warisan dalam Islam yang kerap memicu konflik keluarga jika tak dipahami dengan benar.
Dalam banyak kasus, sengketa warisan bukan hanya soal angka, tetapi soal rasa keadilan, hubungan saudara, dan masa depan keluarga. Di tangan Abu Cek, persoalan yang panas bisa berubah teduh.
Ia menjelaskan dengan tenang.
Tanpa meninggikan suara.
Tanpa memihak.
Di tengah masyarakat Aceh yang menjunjung tinggi syariat Islam—terlebih dengan penerapan Qanun Syariat Islam di provinsi itu—peran ulama seperti Abu Cek menjadi sangat strategis. Mereka bukan hanya pengajar, tetapi penjaga harmoni sosial.
Ulama yang Turun Tangan
Yang membuatnya semakin dihormati bukan hanya ilmunya, tetapi keteladanannya.
Ketika dayah membutuhkan pembangunan, ia tak sekadar memberi instruksi. Ia ikut mengangkat kayu. Ikut berkeringat. Hadir dalam gotong royong.
Di Aceh, figur ulama memang sering menjadi pusat moral masyarakat.
Namun tidak semua ulama turun langsung dalam kerja fisik. Abu Cek melakukannya—tanpa merasa lebih tinggi dari siapa pun.
Kesederhanaannya menjadi cerita yang terus diulang para santri.
Kesederhanaannya menjadi cerita yang terus diulang para santri.
Puluhan tahun ia mengabdi tanpa pamrih. Mengajar, membimbing, mendamaikan. Tidak mencari panggung. Tidak mengejar popularitas.
Hanya berharap ridha Allah.
Wafat di Bulan Suci
Allah memilihkan waktu yang istimewa: 1 Ramadan 1447 Hijriah.Bagi masyarakat Aceh yang religius, wafat di bulan suci diyakini sebagai kemuliaan tersendiri. Rumah duka dipenuhi pelayat. Dari Delima hingga pelosok Pidie, orang-orang berdatangan untuk memberikan penghormatan terakhir.
Jenazah disemayamkan hingga menjelang malam Jumat—malam yang dalam tradisi Islam juga dipandang penuh keberkahan.
Tangis pecah. Doa dipanjatkan.
Namun seperti kata banyak orang bijak: ulama tak pernah benar-benar pergi.
Ilmunya hidup dalam santri.
Nasihatnya hidup dalam keluarga-keluarga yang pernah ia damaikan.
Keteladanannya hidup dalam masyarakat.
Aceh kehilangan satu cahaya.
Pidie kehilangan satu guru.
Reubee kehilangan seorang ayah bagi umat.
Tetapi jejak ilmunya—itulah yang akan terus menyala.
Semoga Allah melapangkan kuburnya, menjadikannya taman dari taman-taman surga, mengampuni segala khilafnya, melipatgandakan pahala pengabdiannya, dan mengumpulkannya bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh.
Al-Fatihah untuk Abu Cek Reubee.
—
Kamaruzzaman Juned








