Pasbana - Value investing sering disebut sebagai “jalan ninja” para investor sabar. Filosofi yang dipopulerkan oleh Benjamin Graham dan muridnya, Warren Buffett, ini sederhana: beli bisnis bagus di harga wajar atau murah, lalu tunggu nilainya terefleksi di harga saham.
Secara teori, terdengar logis. Dalam praktik, banyak investor justru frustrasi. Sudah merasa beli “saham value”, tapi hasilnya tetap rugi. Di mana letak salahnya?
Mari kita pahami kesalahan umum dalam value investing, sekaligus memberi panduan praktis agar strategi ini benar-benar bekerja.
1. Menjual Terlalu Cepat, Padahal Bisnisnya Masih Solid
Saham bagus sering bergerak seperti bola salju. Awalnya lambat, lalu membesar seiring waktu. Banyak investor menyerah saat sahamnya “diam di pojokan” sementara saham lain terbang saat pasar bullish.
Padahal, kunci value investing adalah time in the market, bukan timing the market. Jika fundamental perusahaan tetap kuat—laba tumbuh, utang terkendali, dan arus kas sehat—waktu justru menjadi teman terbaik Anda.
2. Tidak Paham “Moat” atau Keunggulan Kompetitif
Moat adalah “parit pertahanan” bisnis. Bisa berupa merek kuat, jaringan distribusi luas, biaya produksi rendah, atau manajemen unggul.
Tanpa moat, perusahaan mudah diserang pesaing. Dampaknya? Margin tipis dan pertumbuhan stagnan. Harga saham pun sulit naik signifikan.
Sebelum membeli, tanyakan: apa yang membuat bisnis ini sulit ditiru?
3. Terlalu Jatuh Cinta pada Saham
Pasar tidak peduli berapa lama Anda memegang saham. Jika industrinya terdisrupsi atau kinerja memburuk, valuasi bisa turun (disebut de-rating, artinya pasar memberi harga lebih rendah).
Contohnya, beberapa emiten sektor teknologi global pada 2022–2023 mengalami koreksi tajam karena kenaikan suku bunga dan perlambatan laba. Data laporan keuangan dan riset berbagai sekuritas menunjukkan bahwa valuasi tinggi tanpa pertumbuhan berkelanjutan sulit dipertahankan.
Investor harus realistis. Evaluasi rutin kinerja perusahaan, bukan sekadar berharap harga kembali ke modal.
4. Terjebak Ilusi “Saham Murah”
Banyak orang terpaku pada PER (Price to Earnings Ratio) atau PBV (Price to Book Value). PER rendah memang terlihat murah. Tapi jika laba terus turun, PER bisa tampak rendah hanya karena pasar sudah pesimis.
Inilah yang disebut value trap: terlihat murah, tapi nilainya memang menurun.
Prinsipnya sederhana: murah secara angka belum tentu murah secara nilai.
Lihat tren laba, prospek industri, dan katalis pertumbuhan. Jangan hanya terpaku pada satu rasio.
5. Mengabaikan Kualitas Manajemen
Bisnis bagus tanpa manajemen yang kompeten bisa menjadi biasa saja. Laporan tahunan dan paparan publik sering menekankan pentingnya tata kelola (good corporate governance). Banyak analis menilai manajemen sebagai faktor kunci keberlanjutan pertumbuhan.
Manajemen yang pandai mengalokasikan modal akan mengubah penjualan menjadi laba nyata.
Pola Pikir Lebih Penting dari Rumus
Investasi saham itu sederhana, tetapi tidak mudah. Anda tidak butuh IQ tinggi, melainkan disiplin, kesabaran, dan pola pikir rasional.
Sebelum membeli saham value, pastikan:
- Bisnisnya punya keunggulan jelas
- Fundamentalnya sehat
- Valuasinya masuk akal
- Manajemennya kredibel
Jangan berhenti belajar. Pasar selalu berubah, dan investor yang bertahan adalah mereka yang terus meningkatkan literasi finansialnya.
(*)




