Notification

×

Iklan

Iklan

Ketika Negara Turun Tangan Menjaga Pasar

30 Januari 2026 | 19:15 WIB Last Updated 2026-01-30T12:15:22Z


IHSG Terpeleset, Pemerintah Bergerak: Dapen Masuk, Bursa Dibedah

Jakarta, pasbana - Gejolak pasar modal pekan ini menjadi pengingat bahwa kepercayaan investor adalah aset paling rapuh—dan sekaligus paling berharga.

Ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat tertekan akibat sorotan MSCI soal investability pasar Indonesia, pemerintah memilih tidak tinggal diam.

Negara turun tangan, bukan dengan retorika, melainkan lewat serangkaian jurus struktural.

Dalam konferensi pers Jumat (30/1), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan langkah-langkah yang dirancang untuk mengembalikan kepercayaan pasar. Intinya jelas: memperkuat fondasi, bukan sekadar menambal retakan.

Langkah pertama adalah membuka keran dana jangka panjang. Pemerintah akan menaikkan batas investasi dana pensiun dan asuransi di pasar modal dari 8% menjadi 20%. Kebijakan ini disiapkan bersama Kementerian Keuangan dan ditargetkan segera memiliki payung hukum. 

Logikanya sederhana namun penting: dana pensiun dan asuransi adalah investor institusi dengan napas panjang, yang bisa menjadi penyangga stabilitas pasar.

Namun, ada rem pengaman. Dana-dana besar ini kemungkinan hanya boleh masuk ke saham-saham unggulan, yakni konstituen LQ45. Artinya, suntikan likuiditas difokuskan ke emiten dengan kapitalisasi besar, likuiditas tinggi, dan tata kelola relatif mapan. 

Bagi investor ritel, ini sekaligus sinyal: blue chip kembali jadi primadona.

Jurus kedua menyentuh jantung bursa. Pemerintah akan mempercepat demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun ini—lebih cepat dari target awal 2026. Demutualisasi mengubah BEI dari “milik anggota” menjadi korporasi terbuka yang kepemilikannya dapat dipegang publik. 

Tujuannya satu: mengurangi konflik kepentingan dan memperkuat tata kelola. Menariknya, proses ini juga terbuka bagi investor strategis, termasuk Danantara.
Efek berantai mulai terasa. BPJS Ketenagakerjaan menyatakan siap menaikkan porsi investasi saham secara bertahap hingga 20–25% dari dana kelolaan yang mendekati Rp900 triliun. Saat ini, porsi saham masih di kisaran 12–13%. 

Bahkan, wacana pemberian ruang cut-loss dengan aturan ketat ikut dibahas—sebuah langkah realistis dalam manajemen risiko investasi.

Tak hanya pemerintah, OJK dan BEI juga ikut merapikan rumah. Transparansi kepemilikan emiten akan ditingkatkan sesuai standar MSCI, dan ambang batas free float direncanakan naik dari 7,5% menjadi 15%. Ini pesan tegas bahwa pasar Indonesia ingin sejajar dengan praktik global.

Pasar menyambut sinyal ini dengan optimisme terukur. IHSG menguat 1,18% pada Jumat (30/1), sementara indeks IDX30 dan LQ45 melesat lebih tinggi. Artinya, kepercayaan memang mulai kembali—meski masih terkonsentrasi pada saham-saham papan atas.

Pelajarannya sederhana: di pasar modal, stabilitas bukan lahir dari janji, melainkan dari struktur yang kokoh. Dan kali ini, negara tampak serius membangunnya.(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update