Pasbana - Sejarah bangsa kerap terasa seperti panggung besar yang hanya menyorot segelintir nama. Padahal, jauh sebelum proklamasi dikumandangkan, ada anak-anak muda yang diam-diam menyalakan api kesadaran nasional—dari ruang kelas, mimbar diskusi, bahkan dari negeri penjajah itu sendiri.
Salah satunya adalah Haji Bagindo Dahlan Abdullah, pemuda asal Pariaman, Sumatera Barat, yang namanya jarang muncul di buku pelajaran, tetapi jejaknya tertanam kuat dalam sejarah Indonesia.
“Wij Indonesier”: Sebuah Pernyataan yang Menggetarkan Leiden
Tanggal 23 November 1917, di kota Leiden, Belanda. Seorang mahasiswa bumiputra berusia 22 tahun berdiri di hadapan forum akademik. Dengan suara mantap, ia melontarkan kalimat yang kelak mengguncang cara pandang kolonial:
“Wij Indonesier” — Kami Orang Indonesia.
Kalimat itu bukan sekadar pengenalan diri. Ia adalah pernyataan politik. Pada masa ketika wilayah Nusantara masih disebut Nederlandsch-Indië (Hindia Belanda), Dahlan Abdullah secara sadar menggunakan istilah Indonesia sebagai identitas bangsa—jauh sebelum nama itu menjadi arus utama pergerakan nasional.
Sejarawan mencatat, inilah salah satu penggunaan paling awal kata “Indonesia” sebagai konsep kebangsaan, bukan sekadar istilah geografis atau akademik. Sebuah keberanian yang lahir bukan dari senjata, melainkan dari kesadaran intelektual.
Sebangku dengan Tan Malaka, Sebangku dengan Sejarah
Dahlan lahir di Pariaman pada 15 Juni 1895. Jalan intelektualnya ditempa di Kweekschool Fort de Kock (kini Bukittinggi), sekolah elite bagi calon guru bumiputra. Di sanalah ia duduk sebangku dengan Tan Malaka, tokoh revolusioner yang kelak dikenal dunia.
Dua anak muda ini sama-sama menyerap pendidikan Barat, tetapi memilih jalan berbeda: menggunakannya untuk membebaskan bangsanya sendiri. Kelas-kelas kolonial justru menjadi tempat lahirnya benih perlawanan.
Non-Kooperator di Jakarta: Harga Sebuah Keteguhan
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, Dahlan Abdullah dipercaya menjabat Wakil Pemimpin Pemerintahan Kota Jakarta, mendampingi Suwirjo. Jabatan itu bukan posisi nyaman—apalagi ketika Belanda datang kembali dengan bendera NICA.
Dahlan memilih sikap tegas: menolak bekerja sama. Ia masuk barisan non-kooperator, sebuah pilihan yang mahal harganya. Tahun 1946, ia ditangkap dan dipenjara oleh Belanda.
Konsekuensinya tidak hanya ia tanggung sendiri. Keluarganya hidup dalam kekurangan. Putrinya, Prof. Gandasari, pernah mengenang masa itu dengan getir:
“Kami harus pindah-pindah rumah, makan nasi jagung, menjual kain batik dan emas Mama, karena Papa memboikot NICA hampir lima tahun.”
Di balik jargon perjuangan, ada pengorbanan sunyi yang jarang dituliskan.
Orang di Balik Judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”
Nama Dahlan Abdullah juga melekat dalam sejarah literasi Indonesia. Pada 1922, ia menerjemahkan kumpulan surat Kartini karya J.H. Abendanon, Door Duisternis Tot Licht.
Judul yang kini abadi—Habis Gelap Terbitlah Terang—adalah pilihan kata Dahlan sendiri. Sebuah terjemahan yang bukan sekadar alih bahasa, melainkan pengolahan rasa dan makna. Tanpa sentuhan bahasanya, mungkin kita tak akan mengenal frasa seindah itu.
Diplomat Awal Republik, Dimakamkan Jauh dari Tanah Air
Tahun 1950, Presiden Soekarno menunjuk Dahlan sebagai Duta Besar Republik Indonesia Serikat untuk Irak, Suriah, dan Trans-Yordania. Namun tugas itu hanya berlangsung dua bulan. Ia wafat akibat serangan jantung di Baghdad pada 12 Mei 1950.
Atas saran Haji Agus Salim, jenazahnya tidak dipulangkan ke Indonesia. Dahlan dimakamkan di kompleks Masjid Syekh Abdul Qadir Jailani, Baghdad, dengan upacara kehormatan. Agus Salim ingin makam itu menjadi simbol persahabatan abadi Indonesia–Irak.
Hingga kini, makam tersebut masih berdiri—sunyi, tetapi sarat makna.
Pendidikan dan Kemanusiaan sebagai Warisan
Perjuangan Dahlan tidak berhenti di politik dan diplomasi. Ia adalah salah satu pendiri Sekolah Tinggi Islam (STI), yang kelak berkembang menjadi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta—salah satu perguruan tinggi swasta tertua di Indonesia.
Pada 1943, ia juga menggagas Badan Penolong Kecelakaan (BPK), embrio dari sistem penanganan bencana dan kegawatdaruratan di Indonesia. Sebuah visi kemanusiaan yang jauh melampaui zamannya.
Mengapa Nama Ini Perlu Diingat Kembali
Haji Bagindo Dahlan Abdullah bukan sekadar tokoh sejarah. Ia adalah arsitek kesadaran, orang yang menamai bangsa ini ketika sebagian besar rakyatnya belum sempat menyebut diri mereka “Indonesia”.
Di tengah hiruk-pikuk peringatan sejarah yang sering seremonial, mengingat Dahlan berarti mengingat bahwa bangsa ini lahir dari keberanian berpikir dan keberanian berkata—bahkan ketika risikonya adalah penjara, kemiskinan, dan kematian jauh dari rumah. Makin tahu Indonesia.(*)





